GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Yulita Dwi Safitri, Tuntaskan Program Doktoral di Taiwan Bawa Keluarga dan Budaya Banjar

Yulita Dwi Safitri, Tuntaskan Program Doktoral di Taiwan Bawa Keluarga dan Budaya Banjar

×


IKN-Taiwan – Bagi sebagian orang, melanjutkan pendidikan doktoral setelah berkeluarga mungkin terasa seperti perjalanan yang penuh kompromi. Namun bagi Yulita Dwi Safitri, keluarga justru menjadi alasan terkuat untuk terus belajar. Ibu dua anak yang pernah memperoleh apresiasi sebagai bagian dari Pasangan Muda Inspiratif Berprestasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia itu kini memulai babak baru dalam hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Yulita melanjutkan studi program doktoral di Taiwan.

Di Taiwan, Yulita hidup bersama sang suami Muhammad Ghalih yang berkegiatan sebagai peneliti serta kedua anak mereka yang juga menempuh pendidikan. Bagi Yulita, kesempatan berada dalam lingkungan akademik internasional bersama keluarga adalah sebuah privilege yang sangat berharga.

Ia melihat bahwa ketika sang suami memiliki kesempatan berkembang dalam dunia riset, dirinya pun memiliki ruang untuk terus belajar. Kesempatan semacam itu, menurutnya, terlalu berharga jika hanya dilewatkan begitu saja. Ia memang belum mengetahui dengan pasti profesi apa yang akan dijalani setelah menyelesaikan pendidikan doktoral. Namun bagi Yulita, pendidikan tidak selalu harus dimulai dari pertanyaan tentang pekerjaan apa yang ingin diperoleh.

Baginya, pendidikan adalah tentang mempersiapkan diri dan tentang membangun kapasitas. Dan tentang memastikan bahwa ketika suatu hari kesempatan untuk memberi manfaat datang, ia telah memiliki bekal yang cukup untuk menjalaninya.

Ketika Anak-Anak Justru Lebih Fasih Berbahasa Mandarin

Di tengah perjalanan akademiknya, ada satu hal sederhana yang selalu membuat Yulita tersenyum, yaitu perkembangan kedua anaknya. Kedua anak mereka tumbuh dan belajar di lingkungan Taiwan. Seiring waktu, kemampuan bahasa Mandarin keduanya berkembang begitu cepat. Yulita bahkan dengan penuh kebanggaan mengakui bahwa kemampuan bahasa Mandarin kedua anaknya kini lebih baik daripada dirinya sendiri.

Bagi Yulita, hal tersebut bukan sesuatu yang membuatnya merasa tertinggal. Sebaliknya, justru menjadi salah satu kebahagiaan terbesar sebagai seorang ibu. Melihat anak-anaknya mampu beradaptasi, berkomunikasi dalam bahasa baru, berteman, serta tumbuh dalam lingkungan internasional membuatnya semakin percaya bahwa keputusan membawa keluarga dalam perjalanan pendidikan ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar gelar akademik.

Anak-anaknya tidak hanya belajar di sekolah. Tapi mereka belajar memahami dunia yang lebih luas. Mereka belajar bahwa manusia dapat hidup dalam bahasa dan budaya yang berbeda tanpa kehilangan jati dirinya. Dan bagi Yulita, ketika anak-anak suatu hari mampu melampaui kemampuan orang tuanya, di situlah salah satu keberhasilan pendidikan sebenarnya terlihat.

Pendidikan Dimulai dari Sebuah Keluarga Kecil

Yulita memiliki pandangan sederhana tentang pendidikan: perubahan besar harus dimulai dari keluarga. Ia percaya bahwa cita-cita besar menuju Indonesia Emas tidak hanya dibangun melalui kebijakan nasional, universitas besar, atau institusi pendidikan. Semuanya terlebih dahulu dimulai dari rumah. Dari orang tua yang memberikan teladan untuk terus belajar.

Dari anak-anak yang tumbuh dengan rasa ingin tahu. Dan dari keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga kecilnya, proses tersebut berlangsung bersamaan.

Sang suami menjalani aktivitas penelitian, Yulita melanjutkan studi doktoral, sementara kedua anak mereka menjalani pendidikan dan belajar beradaptasi di lingkungan Taiwan. Tidak semuanya selalu mudah. Namun justru perjalanan bersama itulah yang membuat pendidikan memiliki arti lebih dalam bagi mereka. Mereka tidak sekadar mengejar gelar secara individual. Mereka sedang bertumbuh sebagai sebuah keluarga.

Pergi ke Luar Negeri, Tapi Tidak Meninggalkan Banjar

Tinggal jauh dari Indonesia juga tidak membuat Yulita melupakan akar budayanya. Di berbagai kesempatan di Taiwan, ia tetap membawa identitas Banjar melalui sasirangan, kain tradisional khas Kalimantan Selatan yang kerap digunakannya dalam berbagai kegiatan. Bagi Yulita, sasirangan bukan hanya pakaian. Ia adalah cerita tentang kampung halaman. Tentang budaya yang membentuk identitas.

Dan tentang sebuah pesan bahwa menjadi bagian dari komunitas akademik internasional tidak berarti seseorang harus meninggalkan budaya asalnya. Justru di negeri orang, identitas budaya tersebut menjadi semakin berarti.

Yulita juga bergabung dengan Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Taiwan, menjadi bagian dari masyarakat Banjar yang hidup dan berkegiatan di Taiwan. Melalui komunitas tersebut, hubungan dengan sesama bubuhan Banjar tetap terjaga. Silaturahmi terus hidup, budaya tetap dikenalkan dan rasa kekeluargaan tetap tumbuh meski berada ribuan kilometer dari Kalimantan.

Baginya, belajar secara global dan mencintai budaya lokal bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seseorang bisa menjadi bagian dari dunia tanpa kehilangan kampung halaman.

Dari Ruang Akademik hingga Pemberdayaan Pekerja Migran

Perjalanan Yulita juga tidak berhenti pada ruang kelas dan kehidupan keluarga. Ia merupakan salah satu pendiri Yayasan Ghalih Pelopor Pendidikan atau Ghalih Foundation, sebuah lembaga yang bergerak dalam berbagai inisiatif pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai kesempatan, Yulita turut terlibat dalam kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat, termasuk berkolaborasi dengan Pekerja Migran Indonesia di Taiwan.

Kegiatan yang dilakukan tidak hanya berbicara mengenai pendidikan formal. Ada program pengembangan kepribadian, peningkatan kapasitas diri, hingga pembelajaran mengenai bisnis dan persiapan masa depan. Yulita percaya bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya perlu dipandang dari pekerjaan yang mereka jalani hari ini.

Di balik setiap pekerja terdapat cita-cita, keluarga, potensi dan masa depan yang dapat terus dikembangkan. Karena itulah, pendidikan menurutnya harus hadir di mana saja, baik disekolah, kampus, tempat kerja maupun di organisasi masyarakat. Bahkan di dalam percakapan sederhana yang membuat seseorang berani merencanakan hidup lebih jauh.

Belum Tahu Akan Menjadi Apa, Tetapi Tahu Untuk Apa Belajar

Menariknya, di tengah perjalanan doktoralnya, Yulita tidak merasa harus memiliki jawaban sempurna mengenai pekerjaan apa yang kelak akan ia jalani. Ia justru menikmati prosesnya. Baginya, tidak semua perjalanan pendidikan harus dimulai dengan sebuah jabatan sebagai tujuan akhir. Ada kalanya seseorang belajar karena menyadari bahwa kesempatan untuk memperoleh ilmu sedang terbuka.

Ada kalanya seseorang melanjutkan pendidikan karena ingin menjadi ibu yang lebih baik, pasangan yang terus bertumbuh, dan manusia yang lebih siap ketika kesempatan untuk mengabdi datang. Dan mungkin justru di situlah perjalanan Yulita menjadi menarik. Ia bukan sedang berlomba untuk membuktikan bahwa seorang ibu harus memiliki semuanya. Ia hanya memilih untuk tidak berhenti belajar.

Ia mendampingi suami, membesarkan dua anak, melanjutkan pendidikan doktoral, menjaga budaya Banjar, serta tetap terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Semua berjalan bersamaan, dengan ritme yang mereka bangun sebagai sebuah keluarga. Dari Taiwan, Yulita membawa sebuah pesan sederhana bahwa keluarga tidak harus menjadi batas bagi pendidikan. Keluarga justru dapat menjadi tempat pertama sebuah mimpi tumbuh.

Dan ketika orang tua terus belajar, anak-anak melihatnya. Saat orang tua berani melangkah lebih jauh, anak-anak ikut belajar menghadapi dunia. Bahkan suatu hari, seperti yang kini dirasakan Yulita ketika mendengar anak-anaknya berbicara Mandarin lebih baik daripada dirinya, mereka mungkin akan tumbuh melampaui orang tuanya. Bagi Yulita, barangkali itulah salah satu bentuk keberhasilan paling indah dari pendidikan. (MG)

0Komentar