GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Dari Desa Bumi Jaya ke Taiwan: Iswanto Mahasiswa Mesin Otomotif, Politala, Bermimpi Menjadi “Lǎobǎn”

Dari Desa Bumi Jaya ke Taiwan: Iswanto Mahasiswa Mesin Otomotif, Politala, Bermimpi Menjadi “Lǎobǎn”

×

IKN-Tainan, Taiwan – Tidak semua perjalanan besar dimulai dari keadaan yang serba mudah. Bagi Iswanto, putra Desa Bumi Jaya, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan perjalanan menuju Taiwan justru dimulai dari banyak keterbatasan, keberanian mencoba sesuatu yang baru dan tekad untuk mengubah masa depan.

Iswanto merupakan putra dari Ahmad Kusen, berasal dari Desa Bumi Jaya RT. 05/RW. 01, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat ke Taiwan, ia menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) pada program studi Mesin Otomotif.

Pada Oktober 2019, sebuah kesempatan besar datang ketika Iswanto mengikuti Program Academic-Industry Collaboration 2+i hasil kerja sama antara Politeknik Negeri Tanah Laut dan National Chin-Yi University of Technology (NCUT), Taiwan.

Kesempatan tersebut kemudian menjadi titik penting yang mengubah arah hidupnya. Naik pesawat pertama kali untuk mengurus persiapan ke Taiwan. Perjalanan Iswanto menuju Taiwan bahkan sudah memberikan pengalaman baru sejak tahap persiapan.

Ketika harus menjalani medical check-up di Surabaya sebagai bagian dari persyaratan keberangkatan, Iswanto untuk pertama kalinya merasakan pengalaman naik pesawat. Bagi sebagian orang, perjalanan menggunakan pesawat mungkin merupakan hal biasa. Namun bagi Iswanto saat itu, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Dari Tanah Laut menuju Surabaya, kemudian melanjutkan perjalanan lebih jauh hingga ke Taiwan, semuanya menjadi pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan.

Perjalanan itu sekaligus menjadi awal keberaniannya untuk keluar dari lingkungan yang selama ini dikenalnya, meskipun biaya sempat menjadi kendala. Keberangkatan ke luar negeri tentu tidak hanya membutuhkan keberanian. Pada tahap awal, persoalan biaya juga sempat menjadi salah satu kendala yang harus dihadapinya.

Namun keterbatasan tersebut tidak membuatnya membatalkan niat untuk berangkat. Dengan dukungan yang ada dan tekad untuk memperoleh pengalaman yang lebih baik, Iswanto tetap melanjutkan proses hingga akhirnya berhasil tiba di Taiwan. Bagi dirinya, kesempatan belajar dan bekerja di luar negeri terlalu berharga untuk dilewatkan.

Bahasa menjadi tantangan pertama di Taiwan

Setibanya di Taiwan, tantangan baru kembali muncul. Salah satu kesulitan terbesar yang dirasakan Iswanto pada masa awal adalah bahasa. Beradaptasi dengan lingkungan yang menggunakan bahasa Mandarin, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja, bukanlah sesuatu yang mudah. Komunikasi yang terbatas sempat membuat proses penyesuaian berjalan lebih berat. Hal-hal sederhana yang sebelumnya mudah dilakukan menjadi membutuhkan usaha lebih.

Namun ia tidak menyerah, sedikit demi sedikit, Iswanto mulai belajar memahami lingkungan, membiasakan diri dengan bahasa yang digunakan, sekaligus menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat dan pola kerja di Taiwan. Pada awalnya menjadi hambatan perlahan berubah menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Dari Mesin Otomotif Menuju Karier Sebagai Engineer

Latar belakang pendidikan mesin otomotif di Politala menjadi salah satu dasar yang membantunya memasuki dunia industri. Setelah menjalani pendidikan dan proses adaptasi di Taiwan, Iswanto mulai membangun karier profesionalnya sebagai Engineer. Selama kurang lebih dua tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan Vectronic di kawasan Zhunan, Taiwan. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana lingkungan industri Taiwan bekerja.

Bukan hanya kemampuan teknis yang berkembang. Ia juga belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, ketelitian, produktivitas, budaya perusahaan, hingga bagaimana teknologi diterapkan dalam proses industri.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke Yongkang, Tainan, tempat Iswanto saat ini bekerja di JING CHENG Industrial Co., Ltd. Dan hasil kerja mulai menjadi aset masa depan. Bertahun-tahun bekerja di Taiwan mulai memberikan hasil nyata. Dari penghasilan yang dikumpulkannya, Iswanto telah mampu membangun rumah serta membeli lahan perkebunan di kampung halamannya.

Baginya, aset tersebut bukan sekadar hasil dari bekerja di luar negeri. Rumah dan lahan menjadi bagian dari persiapan untuk masa depan. Lahan perkebunan yang dimilikinya dipandang sebagai bentuk tabungan dan investasi jangka panjang, sekaligus bekal ketika suatu hari nanti ia memutuskan kembali ke Indonesia.

Apa yang diperolehnya menunjukkan bahwa perjalanan ke Taiwan tidak berhenti pada pengalaman bekerja, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun fondasi ekonomi secara perlahan.

Belum Ingin Pulang, Masih Banyak yang Ingin Dipelajari

Meski telah bertahun-tahun berada di Taiwan, saat ini Iswanto mengaku belum ingin segera kembali ke Indonesia. Bukan karena melupakan kampung halaman, tetapi karena ia merasa masih ada banyak hal yang perlu dipelajari selama berada di Taiwan.

Ia ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam pengalaman kerja, memahami teknologi, mempelajari sistem industri, mengembangkan kemampuan, serta mengumpulkan modal dan pengetahuan sebanyak mungkin.

Taiwan baginya bukan sekadar tempat bekerja tapi telah menjadi tempat belajar. Ia menyadari bahwa apabila suatu saat ingin membangun usaha sendiri, pengalaman sebagai pekerja dan engineer merupakan bekal yang sangat berharga. Karena itu, ia memilih untuk tidak terburu-buru pulang.

Menunggu Waktu yang Tepat untuk Pulang dan Memulai Usaha

Iswanto memiliki rencana yang cukup jelas. Suatu hari nanti ia tetap ingin kembali ke Indonesia. Namun kepulangan tersebut ingin dilakukan ketika dirinya merasa benar-benar siap, yaitu siap dari sisi pengalaman, sisi kemampuan, modal dan siap untuk membangun sesuatu yang selama ini ia impikan.

Cita-citanya sederhana ketika diucapkan, tetapi besar untuk diwujudkan.

老板 — Lǎobǎn (Bos).

Iswanto ingin suatu hari nanti memiliki dan menjalankan usahanya sendiri. Pengalaman bertahun-tahun berada di lingkungan industri Taiwan diharapkan dapat menjadi bekal ketika ia kembali ke Tanah Laut atau Indonesia untuk membangun usaha yang mandiri. Baginya, bekerja sebagai engineer bukanlah tujuan akhir. Itu adalah bagian dari proses belajar sebelum suatu hari menjadi seorang Lǎobǎn.

Dari Anak Desa Menuju Dunia Internasional

Jika melihat ke belakang, perjalanan Iswanto telah berlangsung cukup jauh. Dari seorang pemuda asal Desa Bumi Jaya, menempuh pendidikan Mesin Otomotif di Politala, mengikuti program internasional Politala–NCUT pada 2019, pertama kali naik pesawat ketika mengurus medical check-up ke Surabaya, menghadapi keterbatasan biaya, kemudian harus beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru di Taiwan.

Ia kemudian bekerja sebagai engineer di Zhunan, melanjutkan karier di Yongkang, membangun rumah, membeli lahan perkebunan sebagai investasi, dan kini terus mengumpulkan pengalaman sebelum suatu hari kembali ke Indonesia.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa keterbatasan pada awal kehidupan tidak selalu menentukan seberapa jauh seseorang dapat melangkah. Yang lebih penting adalah keberanian mengambil kesempatan, kemampuan bertahan ketika menghadapi kesulitan, dan kemauan untuk terus belajar.

Bagi Iswanto, perjalanan tersebut pun belum selesai. Hari ini ia masih memilih bertahan di Taiwan karena merasa masih banyak ilmu dan pengalaman yang harus dibawa pulang. Ketika semuanya telah siap, ia ingin kembali ke Indonesia dan memulai usaha yang selama ini menjadi impiannya.

Dulu mahasiswa Mesin Otomotif dari Desa Bumi Jaya.

Hari ini Engineer di Taiwan.

Esok, ia ingin pulang sebagai seorang Lǎobǎn - Bos. (MG)

0Komentar