Aksi tersebut menjadi bagian dari kolaborasi penyaluran bantuan yang didukung oleh Semua Murid Semua Guru (SMSG), Kitabisa, dan Ghalih Foundation, dengan melibatkan mahasiswa Politala untuk membantu distribusi bantuan langsung kepada masyarakat serta fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa turun ke sejumlah titik untuk membagikan masker kepada masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di luar rumah dan berisiko terpapar asap karhutla.
Selain pembagian masker kepada masyarakat, bantuan kesehatan berupa tabung oksigen serta obat-obatan dan kebutuhan pendukung pelayanan kesehatan juga disalurkan kepada fasilitas kesehatan di Kecamatan Bati-Bati dan Kecamatan Kurau. Bantuan untuk fasilitas kesehatan menjadi salah satu prioritas karena puskesmas memiliki peran penting sebagai layanan kesehatan pertama bagi masyarakat ketika terjadi peningkatan keluhan akibat kualitas udara yang memburuk.
Puskesmas Jadi Salah Satu Prioritas Bantuan
Penyaluran tabung oksigen dan kebutuhan kesehatan dilakukan langsung kepada puskesmas agar bantuan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pelayanan masyarakat. Dengan kebutuhan medis ditempatkan di fasilitas kesehatan, para relawan mahasiswa kemudian dapat lebih berkonsentrasi melakukan kegiatan di lapangan, terutama membagikan masker serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama kondisi kabut asap.
Skema tersebut diharapkan membuat distribusi bantuan menjadi lebih efektif. Puskesmas dapat memperkuat kesiapan pelayanan kesehatan, sementara mahasiswa dan relawan bergerak langsung menjangkau masyarakat yang membutuhkan perlindungan dasar dari paparan asap.
Wakil Direktur Politala Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Rina Pebriana, mengapresiasi respons mahasiswa terhadap persoalan karhutla yang terjadi di Kabupaten Tanah Laut. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang pengembangan kepemimpinan dan kegiatan di lingkungan kampus, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Mahasiswa Politala sangat tanggap terhadap isu karhutla karena dampaknya sudah dirasakan masyarakat, terutama dari sisi kesehatan. Mahasiswa dapat mengambil peran dalam banyak bidang, mulai dari edukasi kepada masyarakat hingga menjadi relawan yang turun langsung ke lapangan”, ujar Rina Pebriana.
Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam aksi kemanusiaan seperti ini sekaligus menjadi proses pembelajaran yang penting. Mahasiswa dapat melihat secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat serta belajar membangun komunikasi, koordinasi, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
Dari Kampus Untuk Masyarakat
Keterlibatan BEM dan Ormawa Politala juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil bagian dalam penanganan persoalan daerah melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Mahasiswa tidak hanya berperan dalam kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara kampus, organisasi sosial, fasilitas kesehatan, serta masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Dalam aksi di lapangan, mahasiswa membantu menyalurkan masker kepada pengguna jalan dan masyarakat di kawasan terdampak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kesehatan, terutama akibat paparan partikel asap yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Di sisi lain, dukungan tabung oksigen dan kebutuhan kesehatan kepada puskesmas diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan ketika terdapat masyarakat yang membutuhkan penanganan.
Kolaborasi antara SMSG, Kitabisa, Ghalih Foundation, Politala, fasilitas kesehatan, serta para relawan mahasiswa menjadi contoh bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak.
Kesehatan Masyarakat Menjadi Fokus Utama
Karhutla tidak hanya menjadi persoalan mengenai lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari dan kesehatan masyarakat. Karena itu, aksi kemanusiaan kali ini difokuskan pada kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Distribusi masker diarahkan sebagai perlindungan bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah, sedangkan dukungan tabung oksigen dan kebutuhan medis ditempatkan di fasilitas kesehatan agar dapat dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat secara lebih terarah. Pendekatan tersebut juga memungkinkan pembagian peran yang lebih jelas antara tenaga kesehatan dan mahasiswa. Tenaga kesehatan tetap berfokus pada pelayanan medis, sementara mahasiswa membantu menjangkau masyarakat melalui distribusi bantuan dan edukasi.
Menumbuhkan Solidaritas dan Kepedulian Mahasiswa
Bagi mahasiswa Politala, keterlibatan dalam kegiatan ini bukan sekadar menjadi relawan dalam penyaluran bantuan. Aksi tersebut menjadi bentuk implementasi nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus penguatan karakter mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial dan lingkungan di daerahnya.
Karhutla yang terjadi di Kabupaten Tanah Laut merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penyaluran bantuan, tetapi dapat berkembang menuju kegiatan edukasi dan kampanye kesadaran mengenai kesehatan, lingkungan, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Melalui semangat kolaborasi, aksi yang dilakukan di Bati-Bati dan Kurau membawa pesan bahwa mahasiswa dapat hadir bukan hanya sebagai bagian dari dunia pendidikan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang bergerak bersama masyarakat ketika daerah menghadapi situasi darurat.
Dari kampus, mahasiswa bergerak. Dari kolaborasi, bantuan disalurkan. Dan dari kepedulian bersama, masyarakat terdampak karhutla diharapkan dapat memperoleh perlindungan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik. (MG)




0Komentar