IKN-Jakarta – Lautan manusia menyelimuti kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026. Ribuan masyarakat dari berbagai lapisan hadir dan bersatu dalam lantunan zikir, salawat, serta doa untuk Indonesia dalam gelaran “Zikir dan Doa Kebangsaan”.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Doa Bersama untuk Indonesia yang Damai, Maju, dan Bermartabat”. Momentum ini menjadi wadah untuk memperkuat semangat persatuan, kerukunan, toleransi, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Suasana khusyuk dan penuh kedamaian terasa di berbagai sudut kawasan Monas. Lantunan zikir dan salawat menggema di tengah ribuan jamaah yang memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa, kedamaian masyarakat, serta kemajuan Indonesia.
Zikir dan salawat dalam kegiatan tersebut dipimpin oleh ulama dan tokoh agama, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian doa dengan penuh kekhidmatan, menjadikan kawasan Monas sebagai ruang bersama untuk memanjatkan harapan bagi masa depan bangsa.
65 Guru dan Tenaga Kependidikan MAN 1 Kota Bogor Turut Hadir
Salah satu rombongan yang turut hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari MAN 1 Kota Bogor. Sebanyak 65 guru dan tenaga kependidikan MAN 1 Kota Bogor ikut serta bersama ratusan anggota rombongan Kementerian Agama Kota Bogor.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, persaudaraan, dan kerukunan yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan madrasah.
Melalui kegiatan tersebut, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan tidak hanya mengikuti rangkaian doa secara spiritual, tetapi juga membawa nilai-nilai persatuan dan kedamaian untuk diterapkan dalam lingkungan pendidikan.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan karakter keagamaan, tetapi juga mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis.
Wujud Indonesia yang Inklusif dan Rukun
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dan tokoh lintas agama memperlihatkan wajah Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia, pejabat negara, masyarakat, serta tokoh-tokoh lintas agama yang merepresentasikan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Kehadiran para tokoh lintas agama yang duduk berdampingan menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun persatuan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam menjaga keutuhan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan pesan kebangsaan mengenai pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Pemandangan ribuan masyarakat yang berkumpul dalam suasana damai di kawasan Monas dinilai menjadi gambaran bahwa kehidupan beragama dan kebangsaan dapat berjalan beriringan.
Doa untuk Masa Depan Indonesia
Kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan juga menjadi momentum untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan bangsa.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan bagi keselamatan masyarakat, tetapi juga untuk kemajuan Indonesia agar menjadi negara yang semakin damai, maju, sejahtera, dan bermartabat.
Bagi para peserta, khususnya guru dan tenaga kependidikan, momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan toleransi, nilai-nilai persatuan diharapkan dapat terus tumbuh mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, madrasah, hingga kehidupan bermasyarakat.
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas akhirnya menjadi gambaran bahwa keberagaman Indonesia dapat dipersatukan oleh satu harapan bersama: terwujudnya Indonesia yang damai, maju, rukun, dan bermartabat. (Red)

0Komentar