IKN-Ciamis – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Persatuan Islam (PD IPP) Ciamis-Banjar kembali menggelar Musyawarah Daerah (Musyda) ke-XI pada Jumat (10/7/26) di kantor Pimpinan Daerah Persatuan Islam Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam menentukan arah perjuangan organisasi sekaligus memperkuat kualitas kader di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
Mengusung tema “Transformasi Kualitas dan Kuantitas Pelajar Persis dalam Menghadapi Dinamika Kontemporer di Tatar Galuh”, Musyda kali ini bukan sekadar agenda rutin organisasi tetapi juga menjadi ruang refleksi dan evaluasi atas perjalanan kepengurusan sebelumnya, serta momentum untuk merancang langkah-langkah progresif ke depan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Tasykil, kader, badan otonom Persatuan Islam serta delegasi dari berbagai poros pelajar di wilayah Kabupaten Ciamis.
Dalam Opening ceremony Ketua PW IPP Jawa Barat berpesan bahwa sebagai khalifah di muka bumi harus bisa menjaga ke kestabilan dalam menghadapi tranformasi digital ini agar tidak di salah gunakan juga tetap berdaya nalar kritis di tengah dinamika globalisasi yang kompleks.
Sebelum memasuki agenda utama, diselenggarakan seminar kewirausahaan sebagai penyerta Musyda XI. Guna membangun ghiroh para kader Persis akan pentingnya manajemen finansial. Kewirausahaan bukan hanya soal membangun usaha tetapi juga tentang membangun mental mandiri, inovatif dan tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi masa kini.
Memasuki agenda utama, Musda XI menjadi forum penting dalam membahas berbagai persoalan internal organisasi, mulai dari evaluasi program kerja, penguatan kaderisasi, hingga pembentukan kepemimpinan baru yang diharapkan mampu membawa organisasi lebih adaptif dan progresif.
Tema besar yang diangkat dalam forum ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan transformasi. Dalam konteks saat ini, kualitas pelajar tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual semata tetapi juga dari integritas moral, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan merespons perubahan teknologi dan sosial. Sementara itu, aspek kuantitas menjadi tantangan tersendiri dalam memperluas jangkauan dakwah dan kaderisasi di kalangan pelajar.
Di wilayah Tatar Galuh sendiri, dinamika kontemporer seperti perkembangan digitalisasi, perubahan pola pikir generasi muda, hingga tantangan sosial budaya menjadi faktor yang menuntut organisasi pelajar Islam untuk terus bergerak dan berinovasi. Hal inilah yang menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Musda kali ini.
Musyawarah daerah sebagai forum tertinggi di tingkat daerah memiliki posisi penting dalam menentukan arah kebijakan organisasi. Melalui forum ini, diharapkan lahir keputusan-keputusan strategis yang tidak hanya menjawab kebutuhan internal organisasi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Dengan terselenggaranya Musda XI ini, PD IPP Ciamis-Banjar diharapkan semakin kokoh dalam menjalankan perannya sebagai wadah pembinaan pelajar Islam yang berlandaskan nilai keimanan, keilmuan, dan perjuangan. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, transformasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan agar pelajar Persis tetap relevan, berdaya saing dan mampu menjadi agen of change (perubahan) bagi masa depan bangsa. (DW)

0Komentar