GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Jejak Marsekal Djoko Suyanto, Anak Lanud Iswahjudi yang Menjadi Panglima TNI Pertama dari Angkatan Udara

Jejak Marsekal Djoko Suyanto, Anak Lanud Iswahjudi yang Menjadi Panglima TNI Pertama dari Angkatan Udara

×


IKN-Jakarta – Marsekal TNI Djoko Suyanto dikenal sebagai salah satu tokoh besar TNI Angkatan Udara yang menorehkan sejarah penting dalam perjalanan militer Indonesia. Lahir dan besar di lingkungan Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Djoko tumbuh dengan mimpi sederhana namun besar: menjadi seorang prajurit TNI AU seperti ayahnya, Mayor Suparno.

Sejak muda, Djoko dikenal sebagai sosok yang disiplin, ramah, rendah hati, dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat. Saat teman-temannya di SMA mulai mengikuti tren rambut gondrong, Djoko tetap tampil rapi dan tegas memegang prinsip. Meski aktif bermain band semasa sekolah, ia tidak pernah mengabaikan pelajaran. Prestasinya tetap cemerlang hingga masuk jurusan Ilmu Pasti di SMA Negeri 2 Madiun.

Di balik sikap tegasnya, Djoko juga dikenal memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap teman-temannya. Ia sering meminjamkan catatan kepada teman yang tidak masuk sekolah dan membantu siapa saja tanpa membeda-bedakan. Karakter inilah yang membuatnya disegani sekaligus disukai banyak orang sejak remaja.

Selepas lulus SMA, Djoko langsung menuju Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, untuk mendaftar sebagai Taruna Akademi Angkatan Udara. Ada kisah menarik yang tak pernah dilupakannya sepanjang hidup. Saat proses seleksi berlangsung, ternyata ijazah SMA miliknya tertinggal di rumah di Madiun. Salah satu penguji, Lettu Purn. M. Darodji Zamroni, memerintahkannya segera pulang mengambil ijazah tersebut. Bertahun-tahun kemudian, Djoko mengaku bahwa perintah sederhana itu menjadi titik penting yang mengubah hidupnya. Menurutnya, jika saat itu ia tidak kembali mengambil ijazah, mungkin ia tak akan pernah menjadi seorang marsekal.

Djoko Suyanto lulus Akabri Udara tahun 1973, satu angkatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kapolri Jenderal Sutanto, dan Laksamana Slamet Soebijanto. Karier militernya terus menanjak sebagai penerbang pesawat tempur F-5 Tiger II di Lanud Iswahjudi, Magetan. Di dunia penerbangan militer, ia dikenal dengan call sign “Beetle” dan “Thunder-35”.

Kemampuan dan dedikasinya membawa Djoko mengikuti pendidikan elite USAF Fighter Weapon Instructor School di Pangkalan Udara Nellis, Las Vegas, Amerika Serikat. Setelah itu, berbagai jabatan strategis diembannya, mulai dari Komandan Skadron Udara 14, Komandan Lanud Iswahjudi, Panglima Kohanudnas, Dankodikau, hingga akhirnya menjadi Kepala Staf Angkatan Udara.

Pengangkatannya sebagai KSAU pada tahun 2005 sempat mengejutkan banyak pihak karena saat itu Djoko masih berpangkat bintang dua. Namun kepercayaan tersebut dijawab dengan kerja nyata. Ia fokus membenahi kesiapan alutsista TNI AU dan meningkatkan kesiapan tempur skuadron yang saat itu masih terbatas.

Puncak karier Djoko Suyanto terjadi pada tahun 2006 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuknya sebagai Panglima TNI. Ia mencatat sejarah sebagai Panglima TNI pertama yang berasal dari Angkatan Udara. Proses uji kelayakan di DPR bahkan berlangsung hingga 13 jam dan disebut sebagai salah satu fit and proper test terpanjang dalam sejarah.

Di balik ketegasan seorang panglima, Djoko tetap dikenal sebagai sosok keluarga yang sederhana dan setia. Ia menikahi Ratna Sinar Sari, gadis yang telah dikenalnya sejak masa SMA. Kehidupan keluarganya juga diwarnai ujian berat ketika putra sulungnya meninggal dunia akibat tumor otak. Peristiwa itu menjadi luka mendalam yang selalu dikenangnya sepanjang hidup.

Perjalanan hidup Marsekal Djoko Suyanto menjadi bukti bahwa disiplin, kerja keras, kesederhanaan, dan ketekunan mampu mengantarkan seorang anak prajurit dari Madiun menjadi pemimpin tertinggi Tentara Nasional Indonesia.  (*)


#DjokoSuyanto

#PanglimaTNI


0Komentar