IKN-Batam – Orang Malaysia dan Singapura dikabarkan setiap akhir pekan, berbondong-bondong ke Indonesia. Bukan untuk liburan, melainkan sekadar makan makanan enak dan berbelanja kebutuhan bahan pokok di Indonesia.
Sebab, selain harga-harga kebutuhan bahan pokok masih murah di Indonesia, juga nilai tukar rupiah sangat lemah dibandingkan ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Mereka tentu lebih senang berada di Indonesia daripada berada di negaranya sendiri.
Apakah gejala ini merugikan Indonesia atau justru menguntungkan secara ekonomi? Entahlah. Orang Malaysia dan Singapura yang ke Indonesia, tentu bukan pula bermaksud ingin melecehkan Indonesia dengan kedatangannya. Bisa jadi justru sebaliknya.
Sebab, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sampai mencak-mencak dalam sebuah pidato, karena setiap hari rakyatnya protes terhadap dirinya dan selalu bicara politik. Tahan dulu bicara politik, dunia sedang krisis, biarkan kami bekerja. Begitulah kira-kira poin yang mau dipesankan Anwar Ibrahim.
BBM mahal, harga-harga kebutuhan bahan pokok melonjak, biaya hidup tinggi, itulah di antara yang membuat rakyat Malaysia dan Singapura hengkang sementara ke Indonesia. Mereka tentu lebih senang tinggal di Indonesia daripada di negaranya sendiri.
Tapi, berbeda dengan di Indonesia sendiri, Presidennya berpidato penuh semangat menatap masa depan, sebagian rakyatnya justru tanpa beban mengolok-olok dan dikatakan omon-omon.
Padahal, di sini BBM masih seperti dulu, kebutuhan bahan pokok masih murah, dan negara sangat stabil. Sebetulnya, itulah fakta senyata-nyatanya bahwa Presiden Indonesia tidak omon-omon, tapi itulah yang terus-menerus distempelkan.
Giliran negara Iran berhasil melawan Amerika Serikat; mata uang Iran tak ada artinya berhadapan dengan dolar Amerika Serikat, kebanyakan rakyat Indonesia ikut-ikutan memuji Iran.
Tapi giliran rupiah melemah terhadap dolar, pasca penolakan Indonesia menjadi pasien IMF, menolak bantuan dari IMF, malah sebagian rakyat Indonesia mengatai-ngatai Presidennya sendiri. Aneh. Entah apa yang terjadi.
Rakyat Indonesia kurang bersyukur dengan apa yang dialaminya sendiri. Bisa jadi mereka memang bukan dari kebanyakan rakyat Indonesia. Mereka hanya pendukung tokoh atau partai politik tertentu yang tak kunjung mau menerima kenyataan, yang kebanyakan mulai agak stres dan hampir gila. (*)
https://www.facebook.com/erizal.sastra/subscribenow

0Komentar