IKN-Jakarta – Di balik ketegasan dan kewibawaan Sarwo Edhie Wibowo sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), tersimpan kisah sederhana tentang perjuangan seorang istri yang penuh ketulusan dan pengorbanan.
Sosok itu adalah Sunarti Sri Hadiyah, perempuan yang dikenal hidup sederhana meski suaminya menduduki jabatan penting di militer.
Dalam buku Ani Yudhoyono: Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah, diceritakan bahwa Sunarti diam-diam membuka toko kelontong kecil demi membantu perekonomian keluarga. Bahkan, ia pernah berjualan minyak goreng untuk menambah uang belanja rumah tangga.
Apa yang dilakukan Sunarti bukan karena gaya hidup mewah atau keinginan mencari keuntungan besar. Ia hanya ingin membantu kebutuhan keluarga tanpa menambah beban suaminya yang saat itu memikul tanggung jawab besar sebagai komandan pasukan elite RPKAD.
Bagi Sunarti, mencari tambahan penghasilan dengan cara halal adalah bentuk pengabdian kepada keluarga. Ia memilih bekerja dalam diam, tanpa mengeluh dan tanpa ingin dipuji.
Sikapnya memperlihatkan bahwa kehidupan keluarga prajurit pada masa itu jauh dari kemewahan. Meski sang suami memiliki jabatan tinggi, kehidupan mereka tetap dijalani dengan kesederhanaan dan kerja keras.
Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain keluarga Sarwo Edhie Wibowo bahwa di balik nama besar seorang jenderal, ada sosok istri yang kuat, mandiri, dan rela berjuang demi menjaga kehormatan keluarga.
Kesederhanaan Sunarti Sri Hadiyah menjadi teladan bahwa kebahagiaan keluarga tidak selalu diukur dari jabatan ataupun kekayaan, melainkan dari ketulusan, kerja keras, dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan. (*)
Sumber : Serambinews.com

0Komentar