GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Brigjen Djasmin: Perwira Baret Merah yang Pernah Dituding Pengkhianat oleh Juniornya Sendiri Prabowo Subianto.

Brigjen Djasmin: Perwira Baret Merah yang Pernah Dituding Pengkhianat oleh Juniornya Sendiri Prabowo Subianto.

×


IKN-Jakarta – Nama Brigadir Jenderal Djasmin mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh besar lain di tubuh pasukan elite Indonesia. Namun dalam sejarah panjang Komando Pasukan Khusus, sosoknya termasuk bagian penting dari generasi awal prajurit baret merah yang ikut melewati berbagai operasi besar sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Djasmin diketahui sudah menjadi tentara sejak tahun 1945. Karier militernya perlahan menanjak hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Komandan Jenderal Kopassandha nama lama Kopassus pada tahun 1980.

Ia dikenal sebagai perwira lapangan yang keras dan penuh pengalaman tempur. Salah satu operasi paling kontroversial yang pernah melibatkan dirinya terjadi di Bali pada 1965–1966, ketika pasukan RPKAD di bawah komando Sarwo Edhi Wibowo diterjunkan untuk operasi penumpasan PKI.

Saat itu, Mayor Djasmin memimpin kontingen RPKAD di Bali. Dalam berbagai catatan sejarah, operasi tersebut menjadi bagian dari masa paling kelam pasca Gerakan 30 September. Djasmin sendiri pernah mengenang situasi mencekam kala itu.

“Kami melihat kepala-kepala di pinggir jalan,” demikian kesaksiannya yang kemudian banyak dikutip dalam buku sejarah militer Indonesia.

Meski berada di lingkaran elite pasukan khusus, nama Djasmin tidak terlalu menonjol di ruang publik. Namun perjalanan kariernya berubah penuh luka ketika memasuki era 1980-an.

Dalam sebuah pertemuan di Kariango, dekat Makassar, Djasmin pernah mencurahkan isi hatinya kepada Sintong Panjaitan. Saat itu, Sintong menjabat Komandan Grup 3 Kopassandha, sementara Djasmin sedang melakukan inspeksi pasukan menjelang masa pensiunnya.

Dengan nada kecewa, Djasmin mengeluhkan perubahan sikap seorang perwira muda yang sedang naik daun saat itu, yakni Prabowo Subianto.

Menurut cerita yang beredar di kalangan internal militer, ketika itu Prabowo muda mencurigai Benny Moerdani akan melakukan langkah politik berbahaya. Situasi tersebut memicu ketegangan di tubuh militer.

Djasmin yang tidak mendukung tindakan tersebut justru dianggap kurang loyal. Dalam emosi yang memuncak, Prabowo muda disebut pernah menuding-nudingkan jarinya ke wajah Djasmin sambil mempertanyakan kesetiaannya kepada bangsa dan negara.

Bagi Djasmin, perlakuan itu menjadi pukulan batin yang sangat dalam.

Ia merasa telah mengabdikan hidup sejak perang kemerdekaan, melewati berbagai operasi militer, mempertaruhkan nyawa demi negara, namun di usia senja justru dituduh tidak setia oleh junior yang jauh lebih muda darinya.

Dalam kisah tersebut, Luhut Binsar Pandjaitan juga disebut berada di lokasi dan berusaha menurunkan tangan Prabowo yang menunjuk ke arah wajah Djasmin.

Peristiwa itu menjadi salah satu cerita yang memperlihatkan kerasnya dinamika internal militer Indonesia pada masa tersebut. Di balik disiplin dan loyalitas korps, terdapat ketegangan, perbedaan pandangan, hingga konflik antargenerasi yang meninggalkan luka pribadi bagi sebagian perwira.

Kisah Brigjen Djasmin akhirnya menjadi potongan sejarah yang jarang diketahui publik. Sebuah cerita tentang pengabdian panjang seorang prajurit, loyalitas kepada negara, dan rasa sakit ketika kehormatan dirinya dipertanyakan di penghujung kariernya.  (*)


#BrigjenDjasmin #Kopassus #RPKAD #PrabowoSubianto #BennyMoerdani #SintongPanjaitan #SejarahIndonesia

0Komentar