Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi menekankan pentingnya reduksi waiting time dan akselerasi diagnostic time. Ia menginstruksikan manajemen untuk memastikan pelayanan yang responsif terhadap kondisi pasien.
"Tugas pemerintah adalah melayani. Dengan adanya Klinik Eksekutif ini, penegakan diagnosis harus lebih cepat. DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) harus stay untuk memastikan keputusan medis secara kolektif-kolegial diambil dalam waktu singkat", tegas Gubernur.
Transparansi Farmakoterapi dan Edukasi Klinis
Gubernur juga menyoroti aspek edukasi pasien. Ia meminta agar para dokter terjun langsung menjelaskan regimen farmakoterapi (kualitas obat) dan rencana tindakan medis secara transparan. Hal ini bertujuan agar standar pelayanan tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga secara kualitas asuhan keperawatan dan medis.
Apresiasi Digitalisasi Penghargaan BPJS Kesehatan
Pada kesempatan yang sama, Direktur RSAM, drg. Busril, M.P.H, menerima penghargaan dari BPJS Kesehatan. Apresiasi ini diberikan atas keberhasilan RSAM dalam mengimplementasikan digitalisasi sistem kesehatan, termasuk integrasi antrean online dan transparansi klaim yang memangkas hambatan administratif bagi pasien.
Sinergi Rujukan dan Inklusi Sosial
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP., menyatakan dukungan penuh terhadap Sistem Rujukan Terpadu. Pemko Bukittinggi akan menyelaraskan rujukan dari Puskesmas dan RSUD kota agar warga lokal mendapatkan akses prioritas ke layanan sub-spesialis di RSAM.
Gubernur menutup sambutannya dengan menginstruksikan drg. Busril, M.P.H untuk memperkuat kemitraan dengan Baznas. Langkah ini bertujuan agar pasien dengan indikasi medis khusus dari kalangan kurang mampu tetap mendapatkan proteksi kesehatan melalui skema bantuan filantropi. (AT)


0Komentar