Oleh: Masjuddin (Joe)
Ketua Umum Pengurus Daerah Pemuda Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Lombok Tengah
Sekretaris Umum MD KAHMI Lombok Tengah
IKN-Lombok Tengah – Identitas sebuah masyarakat seringkali terangkum dalam simbol-simbol kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi masyarakat Kabupaten Lombok Tengah, sosok Masmirah muncul sebagai figur sentral yang melampaui sekadar tokoh mitologis. Ia adalah personifikasi dari karakter ideal masyarakat Sasak: religius, beradab dan memegang teguh kehormatan.
Representasi Etika dan Kesantunan (Krama)
Masmirah mencerminkan konsep krama atau tata krama yang menjadi napas hidup masyarakat di Lombok Tengah. Dalam berbagai tuturan, ia digambarkan sebagai sosok yang mengedepankan kelembutan tutur kata dan keluhuran budi pekerti.
Hal ini selaras dengan falsafah hidup masyarakat setempat yang sangat menghargai harmoni sosial. Bagi orang Lombok Tengah, menjadi pribadi yang "Masmirah" berarti menjadi individu yang mampu menjaga perasaan sesama dan menempatkan diri dengan penuh hormat dalam struktur sosial.
Keteguhan Prinsip dalam Kesabaran
Salah satu aspek paling kuat dari jati diri yang diwakili Masmirah adalah kesabaran yang aktif. Ia bukan simbol kepasrahan yang lemah, melainkan ketangguhan dalam menghadapi cobaan hidup tanpa kehilangan martabat. Karakter ini sangat relevan dengan etos kerja dan daya tahan masyarakat Lombok Tengah yang agraris dan religius, di mana kerja keras selalu dibarengi dengan kepasrahan kepada Tuhan (tawakkal).
Penjaga Tradisi dan Kehormatan
Dalam konteks budaya Sasak, Masmirah seringkali menjadi simbol penjaga kehormatan keluarga dan tanah kelahiran. Di Lombok Tengah, nilai "harga diri" (maliq/takut) sangatlah tinggi. Masmirah menginspirasi masyarakat untuk selalu menjaga nama baik, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, dan tidak mudah goyah oleh pengaruh luar yang dapat merusak tatanan adat.
Manifestasi Estetika dan Budaya
Secara visual dan performatif, nama Masmirah kerap diabadikan dalam berbagai karya seni, mulai dari lagu daerah hingga motif tenun. Hal ini membuktikan bahwa ia telah menyatu dalam alam bawah sadar kolektif masyarakat. Ia menjadi standar keindahan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga keindahan spiritual dan perilaku.
Kesimpulan
Masmirah adalah "ruh" yang menghidupkan karakter masyarakat Lombok Tengah. Ia bukan sekedar warisan masa lalu, melainkan kompas moral yang terus relevan di tengah arus modernisasi. Dengan meneladani nilai-nilai yang melekat pada sosok Masmirah, masyarakat Lombok Tengah tetap mampu mempertahankan jati dirinya yang luhur: sebuah masyarakat yang modern dalam pemikiran, namun tetap membumi dalam tradisi dan akhlak. (Tim)

0Komentar