IKN-Manokwari – Menjawab persoalan limbah minyak jelantah (mijel) yang masih terbuang dan mencemari lingkungan di kawasan transmigrasi Prafi, Kelompok 6 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga terjun mengubah mijel menjadi produk berguna dan bernilai ekonomi tinggi. Setelah melakukan survei dan observasi singkat di lokasi penugasan, Tim 6 mengidentifikasi bahwa pemanfaatan limbah mijel sangat rendah. Mayoritas warga membuang mijel langsung ke saluran air bahkan tanah belakang rumah, hanya sedikit yang menjadikan limbah mijel sebagai bahan bakar dalam pembuatan tahu rumahan. Sebagai informasi, limbah mijel yang tidak terkelola dengan baik dan dibuang langsung ke tanah, mampu mencemari lingkungan bahkan air jika mijel tersebut masuk ke badan air.
Kabar baiknya limbah mijel yang telah melalui proses penjernihan bisa menjadi barang berguna dan bernilai ekonomi tinggi. Tim 6 TEP melihat potensi tersebut dengan melakukan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang tergabung dalam binaan kader tangguh bencana dan kelompok sadar wisata Kampung Udapi Hilir. Hasilnya, mijel yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, ditangan dingin Patriot, diubah dan dijernihkan menggunakan bleaching earth/lempung aktif sehingga menghasilkan mijel siap pakai dan diolah menjadi aneka produk bernilai salah satunya lilin aromaterapi. Aksi memanfaatkan limbah mijel oleh Tim 6 TEP menjadi bentuk nyata komitmen tim dalam mendukung poin ke 13 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals yakni penanganan perubahan iklim di lingkup pengelolaan limbah domestik.
Hal ini karena hasil akhir dari proses penjernihan mijel berupa endapan mijel dan bleaching earth dapat dimanfaatkan menjadi pupuk tanaman setelah melalui proses pembakaran hingga menjadi serbuk hitam tanpa sisa minyak jelantah. Ini membuktikan bahwa pengolahan mijel yang Tim 6 TEP Unair lakukan jadi bentuk nyata yang bisa diterapkan dalam mendukung aksi penanganan perubahan iklim melalui pengelolaan mijel secara bijak. Selain itu, pelatihan ini menjadi sarana berbagi pengetahuan serta upaya Tim 6 TEP dalam membangun kesadaran akan tanggung jawab dari hasil konsumsi minyak goreng agar terkelola dengan baik pada para peserta. Hal ini sejalan dengan poin ke 12 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Guna menyelaraskan poin 12 TPB dengan aksi nyata di lapangan, Tim 6 TEP Unair menggelar pelatihan dalam dua sesi yakni penjernihan minyak jelantah dan pembuatan lilin aromaterapi dengan menggunakan mijel hasil pemurnian pada sesi sebelumnya. Selaku pemateri pelatihan, Mochammad Fahreza, menyampaikan kepada peserta bahwa minyak jelantah sekarang bukan hanya sampah yang terbuang dan tak bernilai, tetapi mijel menjadi ‘Emas’, dapat diolah kembali menjadi bahan bernilai ekonomi tinggi.
Selama dua jam sesi pelatihan, para kader antusias menyimak penjelasan dan mengajukan berbagai pertanyaaan seputar proses penjernihan mijel dan pembuatan lilin aromaterapi kepada narasumber. Nurhayati, peserta dari unsur PKK, mengaku tertarik dan berencana mengembangkan metode penjernihan mijel dan pembuatan liin aromaterapi menjadi peluang usaha baru selepas pelatihan. Hal senada juga diungkapkan Regina yang berasal dari unsur puskesmas SP.IV, ia berencana akan membagikan pengalaman setelah mengikuti pelatihan kepada tetangga sekitar rumah, agar semakin banyak masyarakat sadar pentingnya mengolah minyak jelantah dan tidak sembarangan membuangnya ke lingkungan.
Proses pembuatan lilin aromaterapi terbilang sederhana yakni dengan mencampurkan mijel yang telah dijernihkan dengan palm wax atau parafin sebagai bahan pengeras lilin menggunakan perbandingan 1:1. Adapun pewangi dalam lilin ditambahkan saat suhu adonan mijel berada pada suhu hangat hangat kuku (50-60°C) dan harus menggunakan minyak atsiri murni (essential oil atau fragrance oil) dengan perbandingan 10% dari berat adonan lilin agar mampu menyebarkan wangi saat lilin dinyalakan. Tim 6 TEP Unair juga mengidentifikasi tantangan dalam proses pembuatan lilin aromaterapi yakni ketersediaan bahan di Kawasan Transmigrasi Prafi seperti bleaching earth, minyak atsiri varian seperti lemon, bunga-bunga, hingga teh.
Sebagai alternatif, Tim 6 TEP Unair juga menyediakan opsi penggunaan bahan alami dalam proses penjernihan mijel yakni arang aktif, jus buah mengkudu hingga kulit pisang. Adapun minyak aromaterapi bisa menggunakan minyak suling serai ataupun kayu putih yang lebih mudah didapatkan di sekitar KT Prafi.
Kedepan Tim 6 TEP Unair akan mengadakan berbagai pelatihan kepada para kader dengan tujuan membangun kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia sehingga kader mampu memanfaatkan materi pelatihan dalam kehidupan sehari hari baik dalam aspek kegiatan ekonomi keluarga maupun membagikannya kepada lingkungan sekitar mereka. (Smr)

0Komentar