GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Negara Absen, AKPJ Hadir

Negara Absen, AKPJ Hadir

×

Opini

Oleh: Udiansyah 
Dosen Universitas Lambung Mangkurat 

Ada 1,9  juta  lulusan  SMA/SMK/MA sederajat setiap tahun tidak bisa kuliah (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam Kompas.com, 21/06/2021).  Siapa mereka? Sebagian besar dari mereka dapat dipastikan dari keluarga miskin dan punya kemampuan akademik pas-pasan dan tidak mungkin anak orang kaya yang dimaksud.

Demikian pula anak orang miskin namun punya kemampuan akademik yang cemerlang. Masih ada jalan, jalur beasiswa. Padahal Pembukaan dan Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 beramanah kepada negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberi hak kepada setiap warga negara untuk mendapatkan pengajaran. 

Dari Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, berdiri Perguruan Tinggi (PT), Akademi Komunitas Peternakan Jorong  (AKPJ), Program Studi Diploma 2 Pengembangbiakan Sapi.  Sebagai wujud nyata mengamalkan amanah UUD 1945. Kampus AKPJ  100 %  gratis.  Gratis  SPP/UKT,  gratis  makan  3  kali  sehari, gratis  asrama. Mahasiswa cukup datang dengan semangat dan komitmen kuat untuk merubah nasib.    Selama 2 tahun, semua kebutuhan dasar ditanggung. Ini bukan beasiswa semata. 

Ini model pendidikan yang membebaskan anak miskin dari biaya. AKPJ lahir karena negara belum punya gagasan untuk menjangkau 1,9 juta anak itu. Dengan kondisi ini, sangat wajar data Bappenas (2023) bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi hanya 35,43%. Artinya dari 3 anak lulusan SMA, 2 anak tidak kuliah.  Penyebab utamanya jelas: krisis akses. Kursi PTN terbatas, UKT PTS mahal. Pada tahun yang sama capaian Malaysia 45,4%. Kita tertinggal 10 poin.  AKPJ  mungkin  seperti membuang garam ke laut.  

Tapi  inilah  usaha  hakiki  untuk mencerdaskan  kehidupan  bangsa  dan  memfasilitasi  hak  setiap  warga  negara  untuk mendapatkan pengajaran. Bukan tidak mungkin konsep AKPJ ini direplikasi.  Menjawab 3 Permasalahan AKPJ menjawab tiga persoalan sekaligus.  Pertama, krisis akses, untuk meningkatkan APK Pendidikan Tinggi.    Kedua, krisis impor sapi. Kita masih impor 1,7 juta ekor sapi tiap tahun. AKPJ mencetak "peternak milenial". Program studi D2 Pengembangbiakan Sapi satu-satunya di Indonesia. Ketiga, krisis regenerasi petani. Umur rata-rata petani 47 tahun. AKPJ membuat beternak jadi pilihan anak muda. Dengan praktik langsung. Praktik tersebut sekaligus berproduksi dan dapat menghasilkan uang saku.  Lulusan Mau Jadi Apa? AKPJ punya 2 profil lulusan yang jelas, menjadi peternak yang unggul, memproduksi sapi yang banyak dan berkualitas serta menjadi pengusaha peternakan yang sukses, memahami manajemen, pemasaran, membangun kandang, formulasi pakan dan lain-lain. 

Alumni AKPJ siap mencetak lapangan kerja, bukan hanya siap kerja, Standar  Nasional  Pendidikan  Tinggi  sebenarnya  telah  terjadi  pergeseran  paradigma.  Kriteria  akreditasi  telah  berubah  sebagian. Dahulu,  poin  tinggi  diraih  PT,  jika  PT menerima  mahasiswa  dengan  passing  grade  UTBK  tinggi  dan  skor  TOEFL  tinggi. Sehingga, kampus berlomba cari mahasiswa pintar. Orang tidak mampu dan punya kemampuan akademik  terbatas makin  terlempar.  Sekarang  indikator  digeser  ke  "dampak"  dan "relevansi". 

Ada poin untuk lulusan kerja dan kemitraan industri.  Secara semangat ini membantu  vokasi  seperti  AKPJ.  Namun  masih  ada  syarat  perlu  masih  menjegal, misalnya 20 % dosen harus punya Jabatan Fungsional minimal Asisten Ahli.  Dosen  AKPJ  terbatas  melaksanakan  penelitian  dan  pengabdian  masyarakat. Bagi mereka, mendampingi sapi beranak di kandang jam 4 subuh jauh lebih penting daripada mengurus KUM di kantor.  Ironisnya, saat 2 dosen AKPJ "dipaksa" ikut PEKERTI (pelatihan dosen),  agar punya bekal mengajar lebih baik, di Universitas Andalas, hasilnya keduanya jadi Terbaik 1 dan Terbaik 2. Ini membuktikan bahwa dosen AKPJ punya kapasitas. 

Ada hal yang dikhawatirkan, dengan skema akreditasi saat ini, kampus yang fokus melayani orang miskin dan keterbatasan kemampuan akademik justru sulit bertahan.  Peraturan itu adil jika semua dimulai dari garis sama. PT berbayar dan PT gratis harus ada pembeda.  UU Nomor 12 Tahun 2012 memaksa semua PT  pakai satu ukuran. Aturan ini harus ditinjau ulang. DPR perlu membuat klausul khusus, yaitu PT gratis, untuk rakyat miskin, vokasi strategis pangan, diberi skema akreditasi khusus. Jika tidak, UU yang dibuat bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, justru mematikan kampus yang sungguh melakukannya.  Saat  seleksi  semakin  ketat,  AKPJ  membuka  pintu,  sepanjang  calon  mahasiswa  berkomitmen  ingin  merubah  nasib  mereka, siap  bersikap  jujur,  bekerja  keras,  dan berdisiplin. Saat kita impor sapi, AKPJ cetak peternaknya. Jika negara masih absen, Izinkanlah rakyat hadir lebih dulu.  Mencerdaskan kehidupan rakyat.

0Komentar