GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Warga Kalimantan di Jakarta Gelar Aksi Tolak Krisis Ekologis dan Ketimpangan Energi

Warga Kalimantan di Jakarta Gelar Aksi Tolak Krisis Ekologis dan Ketimpangan Energi

×

IKN-Jakarta – Sejumlah pemuda dan masyarakat perantau asal Kalimantan yang tergabung dalam gerakan solidaritas Bumi Borneo menggelar aksi damai di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aksi ini bertujuan untuk menyuarakan keresahan mendalam atas rangkaian krisis akut yang terus mendera Pulau Borneo (Kalimantan ) tanpa penanganan yang memadai.

Kondisi Kalimantan kian memprihatinkan akibat bencana kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap pekat. Bencana kabut asap tersebut tidak hanya membatasi jarak pandang pengguna jalan raya secara ekstrem hingga membahayakan keselamatan berkendara, tetapi juga memicu lonjakan penyakit infeksi saluran pernapasan di kalangan masyarakat. Situasi ini diperparah oleh suhu terik matahari ekstrem yang kian tak wajar dan telah melampaui ambang batas kenyamanan lingkungan hidup.

Di sisi lain, masyarakat Kalimantan dihadapkan pada penderitaan logistik dan infrastruktur dasar yang sangat kontras. Antrean kendaraan tampak mengular berkilo-kilo meter di hampir setiap SPBU hanya demi mendapatkan BBM jenis Pertalite dan Solar. Tidak hanya itu, pemadaman listrik bergilir berlangsung tanpa henti sepanjang hari hingga per jam, merugikan roda perekonomian dan kenyamanan warga.

Koordinator Aksi sekaligus Juru Bicara, Ahmad Zaki, pemuda asal Martapura, Kalimantan Selatan, menegaskan bahwa apa yang terjadi di tanah kelahirannya merupakan sebuah ironi besar. Kalimantan selama ini dikenal sebagai lumbung energi nasional dengan kekayaan alam yang terus dieksploitasi melalui pertambangan masif di berbagai penjuru, namun masyarakat lokal justru harus menelan pil pahit pemadaman listrik berkepanjangan (byarpet) serta kelangkaan bahan bakar.

Melalui aksi di pusat ibu kota ini, para pemuda dan warga Kalimantan menuntut perhatian serius dari pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah nyata, memulihkan krisis ekologis, serta menghentikan ketimpangan pemanfaatan sumber daya energi yang merugikan rakyat di Bumi Borneo. (Tim)

0Komentar