IKN-Jakarta – Kapten (Pnb) Ajeng Mahessa pilot perempuan pertama di Skadron Udara 17 yang mencatatkan sejarah sebagai pilot Boeing 737 Kepresidenan termuda di dunia pada usia 30 tahun.
Nama Ajeng Tresna Dwi Wijayanti (nama Mahessa setelah menikah) Lahir Jakarta 25 September 1995.
Satuan Skadron Udara 17, Wing Udara 1 Halim Perdanakusuma.
Lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 2018.
Putri dari Kolonel (Purn) Sus Prayitno (Purnawirawan TNI AU)
Jauh sebelum masuk dunia militer ia pernah bertugas sebagai anggota Paskibraka Nasional 2011.
Pada Mei 2020, ia dilantik dan mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi penerbang pesawat tempur (fighter) TNI AU, awalnya menerbangkan T-50i Golden Eagle di Skadron Udara 15.
Sejak Des 2020, ia dipindah tugaskan ke Skadron Udara 17 dan kini dipercaya menerbangkan pesawat VVIP/Kepresidenan jenis Boeing 737.
Kapten Ajeng Mahessa tidak pernah membayangkan dirinya akan menerbangkan pesawat kepresidenan. Bahkan, perempuan berusia 30 tahun itu awalnya tidak pernah terbesit untuk menjadi seorang pilot.
"Tidak pernah menyangka dan tidak pernah mempleningkan dalam perjalanan hidup saya akan menjadi pilot" ujar Ajeng.
Meski tidak terbayang langsung menjadi pilot, keinginannya untuk menjadi tentara sudah tumbuh sejak SMA setelah mengikuti kegiatan Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kedisiplinan dan pendidikan semi militer selain melihat nilai-nilai seorang prajurit dari sang ayah yang seorang purnawirawan.
Ketika masuk Angkatan Udara, Ajeng kemudian diproyeksikan untuk menjadi penerbang. Dari situlah keinginan menjadi pilot mulai tumbuh setelah ia mengenal lebih jauh dunia penerbangan militer.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Skadron 17, satuan yang menjalankan tugas Penerbangan VIP. Ajeng tercatat sebagai pilot perempuan pertama yang masuk ke Skadron tersebut.
Menjadi perempuan di lingkungan yang didominasi laki-laki bukan perkara mudah. Ajeng mengakui pernah merasakan keraguan dari lingkungan sekitar ketika pertama kali masuk ke Skadron VIP.
Ia menilai, keraguan itu merupakan tantangan yang harus dihadapi perempuan dilingkungan militer. Ia memilih tidak membalas keraguan tersebut dengan kata-kata, melainkan membuktikan kemampuan melalui kinerja.
Sebagai pilot VIP pesawat kepresidenan, kesiapan menjadi bagian penting dalam setiap penerbangan. Baik perubahan waktu maupun rute dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti kebutuhan tugas kenegaraan.
"Karena kalau misalnya memang tiba-tiba Bapak (Presiden) harus ada schedule, atau kunker (kunjungan kerja) ke suatu tempat yang itu diluar dari jadwal, kita harus siap sedia" ucap Ajeng.
Selain itu, kesehatan fisik dan mental juga menjadi penting. Ajeng memaparkan bahwa ia harus melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi fisik sebelum dinyatakan kembali memenuhi kualifikasi terbang.
Setiap tahun, pilot juga menjalani pemeriksaan kesehatan (ILA MEDEX) untuk memastikan kondisi kesehatan, fisik, serta psikologis tetap memenuhi persyaratan. Bahkan kondisi fisik serta berat badan yang masuk katagori overweight dapat mempengaruhi rekomendasi kelayakan untuk terbang.
"Setelah melahirkan pun, saya harus melewati beberapa rangkaian ILA dan MEDEX seperti itu untuk bisa saya qualified terbang kembali" ucap ibu dua anak itu.
Ajeng mengungkapkan, pekerjaan sebagai pilot pesawat kepresidenan menuntut prioritas lebih dari dirinya. Karena itu, keluarga menjadi bagian penting yang harus diajak memahami konsekuensi pekerjaan tersebut.
Bagi Ajeng, keterbukaan kepada pasangan menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan antara tugas dan kehidupan keluarga. Ia terbiasa berbagi cerita mengenai pekerjaan kepada suami nya agar tidak muncul kesalahpahaman.
"Tapi hal-hal yang diceritakan pun jangan sampai membuat mereka berpikir negatif tentang apa yang kita lakukan" terangnya.
"Saya berkerja tanpa mengenal waktu artinya 24/7 kita siap untuk mendukung segala misi penerbangan. Operasional maupun latihan" tuturnya. (*)

0Komentar