IKN-Kota Bogor – Sejumlah pasien peserta BPJS Kesehatan Program Rujuk Balik (PRB) di Puskesmas Balekambang, Kecamatan Bogor Selatan, mengeluhkan keterlambatan penerimaan obat rutin akibat belum tersedianya obat di puskesmas. Kondisi tersebut diduga terjadi karena keterlambatan distribusi obat dari apotek penyedia yang bekerja sama dengan puskesmas.
Salah seorang pasien berinisial S mengaku telah menjalani pengobatan penyakit dalam selama hampir delapan tahun di Rumah Sakit Melania. Setelah kondisi kesehatannya dinilai stabil oleh dokter spesialis, beberapa tahun terakhir ia mengikuti Program Rujuk Balik (PRB) dan melanjutkan pengobatan di Puskesmas Balekambang yang beralamat di Jalan Batu Tulis No. 82, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan.
Setiap bulan, tepatnya sekitar tanggal 25, S biasanya menerima obat rutin yang harus dikonsumsi setiap hari, antara lain Valsartan, Gliquidone, Acarbose, dan Ramipril. Obat-obatan tersebut merupakan bagian dari terapi untuk mengendalikan penyakit kronis yang dideritanya.
Namun, pada periode pengambilan obat tanggal 25 Juni 2026, hingga awal Juli 2026, obat yang dibutuhkan belum juga tersedia. Akibatnya, S mengaku terpaksa menghentikan konsumsi obat selama kurang lebih satu minggu karena persediaan obat di rumah telah habis.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Balekambang, dr. Maria, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 pihaknya bekerja sama dengan PT Asindo Husada Bhakti (Apotek Zentrum 3 Bogor) sebagai penyedia obat Program Rujuk Balik (PRB) BPJS Kesehatan.
"Tahun ini kami bekerja sama dengan Apotek Zentrum untuk penyediaan obat pasien BPJS Program Rujuk Balik (PRB) dengan perjanjian obat diantar ke puskesmas. Namun pada kenyataannya obat tidak diantar," ujar dr. Maria saat dikonfirmasi pada Senin (7/7/2026).
Kerja sama tersebut tertuang dalam Perjanjian antara Puskesmas Bogor Selatan dengan PT Asindo Husada Bhakti (Apotek Zentrum 3 Bogor) tentang Penyediaan Obat PRB Puskesmas Bogor Selatan, Nomor AHB-DIR/02/02/PKS/2026 dan Nomor 400.7/70/PKMBOSEL/II/2026.
Keterlambatan distribusi obat tersebut berdampak langsung terhadap pasien-pasien penyakit kronis yang bergantung pada terapi rutin setiap hari. Terputusnya konsumsi obat dikhawatirkan dapat memengaruhi kondisi kesehatan pasien apabila berlangsung dalam waktu yang lama. (Red)

0Komentar