IKN-AMMAN – Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) dilaporkan telah mengambil langkah taktis darurat dengan mengevakuasi salah satu aset pengintai udara paling berharga mereka, pesawat nirawak high-altitude MQ-4C Triton, keluar dari wilayah Timur Tengah.
Langkah pengamanan ini dipicu secara langsung oleh rentetan serangan rudal balistik serta serangan udara pesawat nirawak kamikaze buatan Iran yang menghantam fasilitas hanggar serta pusat komando militer AS di Yordania baru-baru ini.
Sebelum ditempatkan di Yordania guna memantau pergerakan militer di sepanjang kawasan Laut Merah dan Semenanjung Arab, armada udara strategis berukuran raksasa ini sempat ditempatkan di Uni Emirat Arab.
Ancaman kerusakan struktural pangkalan udara akibat gempuran proksi Iran memaksa militer Amerika Serikat untuk menarik mundur sistem pertahanan intelijen tersebut menjauh dari jangkauan tembak musuh demi menghindari kerugian teknologi yang lebih besar.
Penyusutan jumlah inventaris armada pengintai pasca-insiden jatuhnya unit sejenis di Teluk Persia beberapa waktu lalu membuat Pentagon kini sangat berhati-hati dalam mengoperasikan unit MQ-4C Triton yang tersisa.
Melalui relokasi ke wilayah udara aman di Eropa selatan, militer AS berharap tetap dapat menjalankan fungsi pengawasan strategis jarak jauh tanpa harus mempertaruhkan keselamatan fisik drone dari hantaman artileri berat di pangkalan garis depan.
Evakuasi taktis ini sekaligus memperlihatkan kerentanan sistem pertahanan udara pangkalan militer AS di Timur Tengah di tengah badai perang regional yang terus berkecamuk. (*)

0Komentar