IKN-Kabupaten Bogor – Kompetensi Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Cijeruk, Kabupaten Bogor, Dr. Deden, S.Ag., S.Pd., M.Si., menjadi sorotan setelah muncul serangkaian pemberitaan mengenai dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027, ditambah persoalan proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) serta komunikasi yang dinilai kurang pantas terhadap wartawan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan pungutan tersebut meliputi uang pembangunan sebesar Rp1.500.000, uang pakaian sekitar Rp830.000, serta iuran bulanan Rp250.000. Dugaan tersebut telah menjadi perhatian masyarakat dan telah beberapa kali diberitakan oleh media.
Selain persoalan dugaan pungli, perhatian publik juga tertuju pada proyek pembangunan RKB di lingkungan MAN 4 Cijeruk yang sebelumnya diberitakan diduga tidak menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dalam pemberitaan tersebut disebutkan para pekerja diduga tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sebagaimana mestinya.
Di sisi lain, hubungan antara pihak sekolah dan wartawan juga menjadi sorotan. Menurut keterangan yang diperoleh redaksi, nomor WhatsApp wartawan yang akan melakukan konfirmasi kepada Kepala MAN 4 Cijeruk diduga diblokir. Sebelum pemblokiran tersebut, Kepala Madrasah disebut sempat mengirim pesan dengan bahasa Banjar yang berbunyi, "Amun wani datang ke sekolah," yang diartikan sebagai "Kalau berani datang ke sekolah."
Tidak hanya itu, saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp, Dr. Deden disebut mengajak wartawan untuk beradu data. Namun, di akhir percakapan, yang bersangkutan diduga mengucapkan kalimat, "banyak bacot," sebelum mengakhiri panggilan secara sepihak.
Redaksi juga mengaku sempat menerima pesan WhatsApp yang kemudian dihapus oleh pengirim. Meski demikian, melalui fitur riwayat notifikasi pada perangkat, masih terlihat tulisan yang berbunyi, "Kasihan deh lu." Redaksi menilai ungkapan tersebut tidak mencerminkan etika komunikasi yang baik, terlebih disampaikan oleh seorang pimpinan lembaga pendidikan.
Sejumlah warga di sekitar lingkungan sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan juga memberikan penilaian terhadap sikap Kepala Madrasah. Salah seorang warga menyebut Kepala MAN 4 Cijeruk dinilai memiliki sikap yang terkesan arogan dan kurang terbuka terhadap kritik maupun masukan.
Berbagai persoalan tersebut memunculkan pertanyaan dari sebagian masyarakat mengenai kompetensi dan kepemimpinan Kepala MAN 4 Cijeruk dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan satuan pendidikan. Masyarakat berharap seluruh persoalan yang mencuat dapat dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan dan kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tetap terjaga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak MAN 4 Cijeruk belum memberikan klarifikasi resmi terkait berbagai dugaan tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan siap memuat penjelasan atau tanggapan dari Kepala MAN 4 Cijeruk maupun pihak terkait sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Red)


0Komentar