GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Sempat Gagal di Kopassus, Jenderal Ini Malah Sukses Bebaskan Sandera Abu Sayyaf! Ini Kisah Jatuh Bangun Mayjen Kivlan Zen

Sempat Gagal di Kopassus, Jenderal Ini Malah Sukses Bebaskan Sandera Abu Sayyaf! Ini Kisah Jatuh Bangun Mayjen Kivlan Zen

×


IKN-Jakarta – Nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zen, S.I.P., M.Si., selalu berhasil menarik perhatian publik. Menyandang gelar adat Minangkabau Datuak Tanameh, jenderal bintang dua kelahiran 24 Desember 1946 ini dikenal sebagai sosok militer yang kontroversial sekaligus penuh prestasi. Di balik ketegasannya, perjalanan hidup mantan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ini ternyata dipenuhi drama jatuh bangun yang sangat luar biasa—mulai dari kegagalan pahit di Korps Baret Merah hingga aksi heroiknya yang diakui dunia internasional.

Gagal di Batujajar: Kena Getah Gara-Gara Teman Jajan di Warung

Banyak orang mengira karier seorang jenderal selalu berjalan mulus tanpa cacat. Namun, lembaran hidup Kivlan Zen mencatat kisah sebaliknya. Selepas lulus dari AKABRI tahun 1971, Letda Inf. Kivlan Zen langsung diberangkatkan untuk masuk organik Kopassandha (sekarang Kopassus).

Ia menjalani latihan Komando yang terkenal brutal dan menguras fisik di Batujajar bersama rekan satu angkatannya yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar, seperti Subagyo Hadi Siswoyo dan Muchdi Purwoprandjono.

Nasib sial mulai membayangi Kivlan saat fase latihan survival di Cikole. Ia bersama rekannya, Letda Inf. Hadi Utomo, tertangkap basah oleh pelatih karena menyembunyikan makanan yang dibeli dari luar. Komandan Latihan saat itu, Mayor Inf. Muhadi, marah besar dan memberikan peringatan keras.

Puncaknya terjadi saat Long March melelahkan dari Gunung Tangkuban Perahu menuju Cilacap. Di tengah perjalanan, Letda Hadi Utomo kembali ketahuan berbelanja di warung karena tak kuasa menahan lapar. Sial bagi Kivlan, meski ia tidak ikut jajan, ia terkena imbas "hukuman komunal". Akibat insiden tersebut, Kivlan Zen didepak dan dinyatakan tidak lulus dalam pendidikan Komando.

Kivlan terpaksa kembali ke markas Cijantung memakai baret merah tanpa brevet Komando di dadanya—sebuah pukulan telak bagi seorang perwira muda.

Bangkit dari Keterpurukan: Karier yang Tertahan dan Melesat Bak Meteor

Melihat Kivlan yang sempat terpukul, seorang senior bernama Kapten Inf. Mulchis Anwar memberikan nasihat emas: "Jangan kecil hati, pindahlah ke Kodam yang sedang ada operasi militer untuk membuktikan kemampuanmu."

Nasihat itu dituruti. Kivlan dimutasi ke Yonif 753/Arga Vira Tama di bawah Kodam XVII/Cenderawasih, Papua. Di medan operasi inilah insting tempur Kivlan terasah tajam. Meski begitu, garis nasib kembali mengujinya. Karier Kivlan sempat tersendat lama; ia tertahan di pangkat Mayor selama enam tahun, dan pangkat Letnan Kolonel baru didapatnya setelah tujuh tahun bertugas di medan bergejolak Timor Timur.

Namun, roda nasib berputar. Setelah pangkat Kolonel berhasil diraihnya pada tahun 1994, karier Kivlan melesat bak meteor. Hanya butuh waktu 18 bulan baginya untuk pecah bintang menjadi Brigadir Jenderal. Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) dengan pangkat Mayor Jenderal tepat pada masa peralihan krusial dari era Orde Baru ke Orde Reformasi.

Tamparan Balik: Menjadi Juru Selamat di Filipina Selatan

Tahun 2016 menjadi pembuktian internasional bagi seorang Kivlan Zen. Kelompok milisi radikal Abu Sayyaf di Filipina selatan berulang kali menyandera warga negara asing, termasuk puluhan pelaut asal Indonesia. Situasi sangat genting karena para sandera diancam akan dieksekusi.

Di sinilah jaringan luas dan kemampuan negosiasi Kivlan Zen bekerja. Memanfaatkan kedekatan historisnya dengan tokoh-tokoh di Filipina Selatan saat ia bertugas sebagai pasukan perdamaian OKI di masa lalu, Kivlan maju ke garis depan sebagai negosiator kunci.

Tanpa opsi militer terbuka yang bisa melanggar kedaulatan negara tetangga, strategi diplomasi dan negosiasi persuasif yang dipimpin Kivlan membuahkan hasil luar biasa. Sebanyak 18 Warga Negara Indonesia berhasil dibebaskan dari cengkeraman Abu Sayyaf dalam kondisi selamat dan utuh tanpa syarat yang merendahkan harga diri bangsa.  (*)



0Komentar