IKN-Jakarta – Indonesia pernah memiliki seorang putra terbaik bangsa yang melintasi ruang batas sains, militer, hingga birokrasi tertinggi negara. Beliau adalah Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri Brodjonegoro, begawan teknik kimia lulusan Belanda yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan energi dan pendidikan di tanah air.
Meskipun berpulang di usia yang relatif muda (47 tahun), warisan intelektualnya melahirkan standar emas baru di dunia akademik, dan darah jeniusnya terus mengalir hingga anak-cucunya yang kini menjadi menteri-menteri penjaga kedaulatan sains modern Indonesia.
Eks Ajudan Jenderal Nasution yang Tugas Belajar ke Belanda
Lahir di Semarang pada 3 Juni 1926, Soemantri tumbuh di lingkungan keluarga akademisi terpandang. Ayahnya, Prof. Drs. R. Soetedjo Brodjonegoro, merupakan guru besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Bakat sains dan teknik Soemantri sudah membubung tinggi sejak remaja.
Saat berkuliah di Technische Hoogeschool (THS) Bandung, panggilan sejarah memanggil jiwanya. Revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan pecah:
Di masa perang kemerdekaan tersebut, Soemantri Brodjonegoro turun langsung ke medan laga dan dipercaya menjadi Ajudan Kolonel A.H. Nasution yang saat itu menjabat Panglima Komando Jawa.
Usai perang, Angkatan Perang RI mengirimnya dalam tugas belajar ke Technische Hoogeschool Delft (kini TU Delft), Belanda. Di sana ia membuktikan kejeniusannya dengan merengkuh gelar Insinyur (1956) dan Doktor Ilmu Teknik (1958) lewat disertasi visioner tentang kromatografi gas.
Arsitek Kelahiran ITB dan Rektor Termuda dalam Sejarah UI
Pulang ke tanah air, Dr. Ir. Soemantri menjadi garda depan staf pengajar pribumi pertama di bidang teknik kimia. Peran akademisnya melesat luar biasa:
Arsitek Pendiri ITB: Ia menjadi salah satu tokoh kunci di dalam panitia persiapan hingga ditunjuk sebagai Panitera Presidium saat Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi berdiri pada 2 Maret 1959.
Rektor Termuda UI: Pada tahun 1964, di usianya yang baru menginjak 38 tahun, Soemantri mencetak sejarah dengan diangkat sebagai Rektor ke-6 Universitas Indonesia. Beliau memegang rekor sebagai Rektor UI termuda sekaligus yang terlama menjabat dalam sejarah (1964–1973).
Menakhodai Sektor Energi Nasional hingga Pendidikan
Kepiawaiannya mengelola institusi membuat Presiden Soeharto kepincut. Soemantri ditarik masuk ke dalam lingkaran eksekutif negara. Ia dipercaya mengemban amanah besar sebagai:
Menteri Pertambangan/ESDM (1967–1973): Ia menakhodai sektor energi nasional lintas kabinet (Kabinet Ampera, Pembangunan I, dan Pembangunan II) di tengah fase krusial penataan regulasi minyak dan gas bumi Indonesia.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1973): Di tahun yang sama, ia didapuk memimpin gerbong pendidikan nasional untuk mencetak fondasi literasi generasi penerus bangsa.
Melahirkan Dinasti Intelektual Terkuat di Indonesia
Soemantri menikah dengan dr. Nani Soeminarsari dan dikaruniai tiga putra. Kejeniusan Soemantri menurun mutlak pada ketiga anaknya, yang semuanya sukses menjadi profesor dan menteri andalan Indonesia di era modern:
Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro: Dosen Teknik Mesin ITB yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Kabinet Merah Putih.
Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro: Mantan Dekan FE UI yang pernah menjabat Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, serta Menteri Riset dan Teknologi.
Ir. Irsan Soemantri Brodjonegoro, Ph.D.: Ilmuwan ternama yang mengabdi sebagai dosen Teknik Kelautan ITB.
Akhir Hayat dan Legasi yang Abadi
Tepat pada 18 Desember 1973 dini hari, Prof. Soemantri Brodjonegoro menghembus napas terakhirnya di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta akibat sakit di tengah masa aktif jabatannya sebagai Mendikbud. Ia dilepas dengan upacara militer agung yang dipimpin oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan dimakamkan di TMP Kalibata.
Untuk menghormati jasa raksasanya, namanya diabadikan sebagai nama gunung di Pegunungan Sudirman Papua (Puncak Sumantri), Stadion Olahraga ikonik di Kuningan Jakarta Selatan (Stadion Soemantri Brodjonegoro), serta jalan-jalan protokol di lingkungan kampus UI Depok dan Universitas Lampung. Warisan keilmuan dan integritasnya tetap tegak, hidup di setiap sendi sains dan pendidikan tanah air. (*)
Sumber: Wikipedia

0Komentar