GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Jejak Spiritual presiden Soeharto: Peran Besar Romo Diyat di Balik Perjalanan Kekuasaan

Jejak Spiritual presiden Soeharto: Peran Besar Romo Diyat di Balik Perjalanan Kekuasaan

×


IKN-Jakarta – Di balik sosok Soeharto yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, tersimpan sisi lain yang jarang tersorot yakni perjalanan spiritual yang kuat dan mendalam. Diketahui, Soeharto memiliki banyak guru spiritual yang tersebar di berbagai daerah. Namun, di antara semuanya, ada satu nama yang memiliki posisi paling istimewa: Romo Diyat.

Kedekatan Soeharto dengan Romo Diyat bermula sejak keduanya masih berguru kepada Romo Marto Pangarso dan Romo Budi Kusumo di kawasan Notoprajan, Yogyakarta, sekitar tahun 1950. Hubungan itu kemudian berkembang ketika Sudiyat nama asli Romo Diyat diangkat sebagai penerus ajaran oleh para gurunya. Sejak saat itu, Soeharto menempatkannya sebagai pembimbing spiritual utama dalam hidupnya.

Salah satu kisah yang paling dikenal terjadi pada malam 1 Sura tahun 1964. Dalam sebuah ritual tapa kungkum di pertemuan sungai di Semarang (yang kemudian dikenal sebagai Tugu Soeharto), Romo Diyat bersama para muridnya, termasuk Soeharto, menjalani laku spiritual. Dalam keheningan malam, konon terdengar bisikan gaib yang meramalkan bahwa Soeharto kelak akan menggantikan posisi Ahmad Yani.

Ramalan tersebut menjadi kenyataan setelah peristiwa 1965, ketika Ahmad Yani gugur dan Soeharto mengambil alih jabatan sebagai Menpangad. Dari titik itulah, jalan Soeharto menuju kursi kepresidenan terbuka lebar.

Sebagai guru spiritual, Romo Diyat memiliki ribuan murid dari berbagai kalangan mulai dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi. Mereka datang dengan beragam tujuan: mencari ketenangan batin, kelancaran rezeki, hingga kedudukan. Bagi Soeharto sendiri, tujuan utamanya adalah mencapai ketenteraman dan kemuliaan hidup.

Romo Diyat pun membimbingnya melalui berbagai ritual dan laku spiritual, bahkan memberinya sejumlah pusaka yang diyakini memiliki nilai simbolis dan kekuatan tertentu. Hubungan keduanya tidak pernah terputus, bahkan ketika Soeharto telah menjadi presiden. Ia masih rutin mengunjungi gurunya atau menjalankan ritual atas permintaan Romo Diyat.

Hingga akhir hayat Romo Diyat pada tahun 1986, Soeharto tetap menunjukkan penghormatan mendalam dengan beberapa kali berziarah ke makamnya di Klaten. Kisah ini menjadi gambaran bahwa di balik kekuasaan besar seorang pemimpin, terdapat dimensi spiritual yang turut membentuk arah perjalanan hidupnya.  (*)

Sumber : Merdeka.com

#Soeharto #RomoDiyat #SejarahIndonesia #SpiritualJawa #TokohBangsa #PerjalananHidup #KisahInspiratif

0Komentar