GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Deretan Jenderal dan Perwira TNI AD Tokoh Kunci Penumpasan PKI.

Deretan Jenderal dan Perwira TNI AD Tokoh Kunci Penumpasan PKI.

×


IKN-Jakarta – Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah Indonesia. Tragedi tersebut menewaskan enam jenderal dan satu perwira TNI Angkatan Darat yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.

Setelah peristiwa itu terjadi, Angkatan Darat bergerak cepat melakukan operasi militer untuk mengendalikan keadaan dan menumpas jaringan PKI di berbagai daerah. Sejumlah jenderal dan perwira TNI AD menjadi tokoh penting dalam operasi tersebut.

Sarwo Edhie Wibowo

Salah satu tokoh paling dikenal dalam operasi penumpasan PKI adalah Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Sarwo Edhie mendapat tugas memimpin operasi militer di Jawa Tengah, wilayah yang saat itu dianggap sebagai salah satu basis kuat PKI. Baginya, tragedi G30S bukan hanya persoalan negara, tetapi juga menyangkut gugurnya para jenderal yang menjadi rekan dan atasannya, termasuk Ahmad Yani.

Di bawah kepemimpinannya, RPKAD bergerak cepat melakukan operasi-operasi militer untuk menghancurkan kekuatan PKI. Namun operasi tersebut juga menjadi bagian paling kontroversial dalam sejarah Indonesia karena memicu pertumpahan darah besar di berbagai daerah.

Pada tahun 1989, Sarwo Edhie pernah menyampaikan kepada anggota DPR bahwa korban jiwa dalam tragedi tersebut mencapai jutaan orang.

Soeharto

Tokoh penting lainnya adalah Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Kostrad.

Pasca peristiwa G30S, Soeharto mengambil alih kendali operasi militer di Jakarta. Ia menyusun langkah-langkah strategis untuk menguasai kembali pusat komunikasi dan pertahanan negara.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menetralisir pasukan yang masih mendukung Gerakan 30 September di sekitar Medan Merdeka. Setelah itu, pasukan diperintahkan merebut kembali gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dan pusat telekomunikasi.

Melalui siaran radio nasional, Soeharto kemudian menjelaskan situasi yang sedang terjadi kepada rakyat Indonesia sekaligus mengumumkan tindakan yang diambil Angkatan Darat.

Operasi berikutnya diarahkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang saat itu menjadi salah satu pusat gerakan G30S. Penyerbuan dilakukan oleh RPKAD bersama pasukan Yon 328 Kujang/Siliwangi.

M Jasin

Nama lain yang memiliki peran penting adalah M Jasin, Panglima Kodam Brawijaya.

Di Jawa Timur, M Jasin memimpin operasi militer untuk membersihkan sisa-sisa kekuatan PKI. Salah satu operasi terbesar adalah Operasi Trisula yang digelar di kawasan Blitar Selatan pada tahun 1968.

Operasi tersebut dipimpin Kolonel Wintarmin dengan sasaran memburu tokoh-tokoh PKI yang bersembunyi di hutan-hutan Blitar Selatan. Dalam operasi itu, banyak anggota PKI ditangkap dan sejumlah tokoh penting dilaporkan tewas.

AH Nasution

Abdul Haris Nasution atau AH Nasution juga menjadi tokoh sentral dalam sejarah penumpasan PKI.

Sebelumnya, Nasution sudah memiliki pengalaman menghadapi pemberontakan PKI dalam Peristiwa Madiun 1948. Saat itu, ia berperan dalam penyusunan strategi operasi militer untuk menghancurkan pemberontakan PKI di Madiun.

Pengalaman tersebut membuat Nasution menjadi salah satu tokoh militer paling berpengaruh dalam menghadapi ancaman komunisme di Indonesia.

Perannya semakin besar setelah ia selamat dari upaya penculikan pada malam G30S 1965, meski tragedi itu merenggut putri tercintanya, Ade Irma Suryani Nasution.

Peristiwa G30S dan operasi penumpasan PKI hingga kini masih menjadi bagian sejarah yang penuh perdebatan. Di satu sisi, operasi tersebut dipandang sebagai upaya mempertahankan negara dari ancaman kudeta. Namun di sisi lain, tragedi kemanusiaan yang terjadi setelahnya juga meninggalkan luka mendalam dalam perjalanan bangsa Indonesia.  (*)


Sumber : Merdeka.com

0Komentar