IKN-Jakarta – Pangeran Turki al-Faisal, mantan direktur intelijen Saudi sekaligus anggota kerajaan yang berpengaruh, memperingatkan bahwa keberhasilan strategi Israel untuk memicu perang antara negara-negara Arab dan Iran akan menghancurkan kawasan tersebut, menyebabkan hilangnya banyak nyawa tanpa memberikan keuntungan bagi bangsa Arab.
Pangeran Turki Al-Faisal mengatakan: "Jika rencana Israel untuk menyulut perang antara kami dan Iran berhasil, kawasan ini akan berubah menjadi reruntuhan dan kehancuran, dengan hilangnya ribuan nyawa putra dan putri kami dalam pertempuran yang tidak kami miliki kepentingan maupun suara di dalamnya. Israel kemudian akan berhasil memaksakan kehendaknya pada kawasan ini dan tetap menjadi satu-satunya aktor yang efektif di lingkungan kami."
Kutipan tersebut memperingatkan agar negara-negara Teluk tidak dimanipulasi ke dalam konflik proksi, yang memungkinkan Israel muncul sebagai kekuatan regional yang dominan sementara pihak lain menderita kehancuran.
Pangeran Turki berpendapat bahwa ancaman yang lebih besar bagi stabilitas regional bukan bukan Iran, namun Israel, yang saat ini masih terus-terusan menyerang Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan Suriah. Ia menyatakan bahwa Israel bertindak sebagai "biang keladi" yang perlu "dikendalikan" oleh Amerika Serikat.
Ia menyatakan bahwa Arab Saudi tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel, serta menegaskan bahwa Kerajaan Saudi hanya akan mempertimbangkan langkah tersebut jika Israel menghentikan tindakannya dan bertindak sesuai dengan hukum internasional.
Ia juga menekankan perlunya menjaga Timur Tengah bebas dari senjata nuklir, termasuk di Israel, yang ia catat sudah memilikinya. Iran bukan ancaman karena tak punya nuklir. Pada awal tahun 2026, ia menuduh Israel berupaya melakukan ekspansi "dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat."
Pernyataan mengenai ambisi ekspansi "dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat" dikaitkan dengan konsep "Israel Raya" (Eretz Yisrael Hashlemah). Jika kita memetakan wilayah geografis yang berada di antara kedua sungai besar tersebut, cakupannya sangat luas dan melintasi batas-batas negara modern saat ini, yaitu
Mesir (wilayah dari bagian timur Sungai Nil hingga Semenanjung Sinai); Irak (wilayah di sekitar aliran Sungai Efrat bagian barat dan tengah); Palestina (seluruh wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza); Israel (seluruh wilayahnya saat ini); Yordania (seluruh wilayah negara); Lebanon (seluruh atau sebagian besar wilayah, terutama bagian selatan); Suriah (sebagian besar wilayah, terutama dari perbatasan Israel/Lebanon hingga tepi Sungai Efrat di timur);Arab Saudi (sebagian wilayah utara dan barat laut, daerah Tabuk dan sekitarnya); Turki (sebagian wilayah tenggara tempat hulu Sungai Efrat berada). (*)

0Komentar