IKN-Jakarta – Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan darah di medan pertempuran, tetapi juga dengan kecerdasan di meja perundingan. Di balik pengakuan kedaulatan yang diraih bangsa ini, sosok Mohamad Roem berdiri tegak sebagai salah satu diplomat paling berpengaruh. Ia adalah tokoh yang membuktikan bahwa pena dan argumen bisa menjadi senjata yang sama mematikannya dengan senapan.
Perjalanan Akademik: Dari Kedokteran ke Jalur Hukum
Lahir di Parakan, Temanggung, pada 16 Mei 1908, masa kecil Mohamad Roem diwarnai dengan kepindahan ke Pekalongan akibat wabah penyakit. Namun, tantangan itu tidak menyurutkan semangat belajarnya. Roem adalah sosok yang cerdas; ia sempat menempuh pendidikan di sekolah dokter legendaris, STOVIA, pada tahun 1924.
Menariknya, garis takdir membawanya pindah ke jalur hukum setelah sempat ditolak masuk perguruan tinggi kedokteran. Ia akhirnya meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dari Rechtshoogeschool te Batavia pada 1939. Keputusan pindah haluan ini terbukti menjadi berkah bagi Indonesia, karena di sanalah Roem mengasah logika hukum yang kemudian digunakannya untuk menjerat diplomasi Belanda.
Bintang Diplomasi di Masa Revolusi
Nama Mohamad Roem abadi dalam buku sejarah lewat Perjanjian Roem-Roijen pada tahun 1949. Di tengah kebuntuan pasca-Agresi Militer Belanda, Roem memimpin delegasi Indonesia dengan ketenangan luar biasa. Perjanjian ini menjadi pembuka jalan kembalinya pemerintahan RI ke Yogyakarta dan langkah awal menuju Konferensi Meja Bundar (KMB).
Sebelum itu, Roem telah mengasah taringnya sebagai anggota delegasi dalam Perundingan Linggarjati (1946) dan Perjanjian Renville (1948). Ia dikenal sebagai sosok yang sangat teliti, berkepala dingin, namun tak tergoyahkan jika menyangkut prinsip kedaulatan negara.
Negarawan Multi-Talenta
Karier Roem di pemerintahan sangat mentereng. Ia merupakan tokoh kunci dari Partai Masyumi yang dipercaya memegang berbagai posisi strategis, antara lain:
Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Natsir.
Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Sjahrir III dan Kabinet Wilopo.
Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Di setiap posisi yang diembannya, Roem selalu menunjukkan integritas tinggi. Ia bukan hanya seorang politisi, tetapi seorang teknokrat hukum yang memastikan bahwa setiap kebijakan negara memiliki landasan konstitusional yang kuat.
Kehidupan Pribadi dan Warisan Akhir
Di balik sosoknya yang serius sebagai pejabat negara, Roem adalah seorang suami dan ayah yang penyayang. Ia menikahi Markisah Dahlia pada tahun 1932 dan dikaruniai dua orang anak, Roemoso dan Rumeisa.
Mohamad Roem wafat pada 24 September 1983 karena gangguan paru-paru. Meski raganya telah tiada, namanya akan selalu dikenang sebagai diplomat yang berhasil memaksa Belanda mengakui bahwa Indonesia bukan lagi sebuah koloni, melainkan sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. (Red)
Sumber: Wikipedia

0Komentar