IKN-Jakarta – Nama Haris Azhar telah lama menjadi momok bagi ketidakadilan di Indonesia. Dikenal sebagai aktivis yang tak gentar menghadapi pusaran kekuasaan, pendiri Lokataru ini konsisten berdiri di garis depan untuk membela hak asasi manusia (HAM) dan menyuarakan mereka yang terbungkam.
Dari Mahasiswa Reformasi hingga Puncak KontraS
Lahir di Jakarta pada 10 Juli 1975 dari keluarga multietnis (India, Banjar, dan Makassar), jiwa aktivisme Haris telah tertanam sejak masa kuliah di Universitas Trisakti. Ia menjadi saksi sekaligus aktor dalam gelombang demonstrasi mahasiswa 1997-1998 yang menumbangkan rezim Orde Baru.
Pasca-reformasi, Haris mendedikasikan dirinya di KontraS sejak 1999. Kariernya menanjak dari divisi advokasi hingga dipercaya menjabat sebagai Koordinator KontraS (2010–2016). Di bawah kepemimpinannya, KontraS mendapatkan pengakuan dunia, termasuk penghargaan bergengsi Emilio F. Mignone International Human Rights Award dari Pemerintah Argentina pada 2012.
Keberanian yang Berisiko: Kasus Freddy Budiman hingga Lord Luhut
Haris dikenal karena keberaniannya membongkar isu sensitif. Pada 2016, ia mengguncang publik lewat kesaksian gembong narkoba Freddy Budiman mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat dalam bisnis barang haram tersebut. Meski berujung pada laporan polisi terhadapnya, Haris tetap bergeming.
Pasca-KontraS, ia mendirikan Lokataru Foundation. Lembaga ini menjadi benteng hukum bagi masyarakat sipil dan tokoh-tokoh vokal lainnya. Salah satu perseteruan hukum paling ikonik adalah saat dirinya dan Fatia Maulidiyanti dilaporkan oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan terkait diskusi mengenai tambang di Papua.
Kemenangan Demokrasi: Vonis Bebas yang Bersejarah
Setelah melewati proses hukum yang panjang dan sempat terancam pidana 4 tahun penjara, sejarah mencatat kemenangan bagi kebebasan berekspresi. Pada 8 Januari 2024, Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutus bebas Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti.
Hakim menyatakan bahwa apa yang disampaikan Haris bukanlah pencemaran nama baik, melainkan bagian dari fungsi kontrol sosial dan riset ilmiah. Kemenangan ini disambut haru oleh para pejuang demokrasi sebagai bukti bahwa kritik terhadap pejabat publik bukanlah sebuah kejahatan.
Pendidikan dan Kepakaran
Kekuatan argumen Haris tidak hanya didasari keberanian, tetapi juga latar belakang akademis yang mumpuni. Ia memegang gelar Master of Art dari University of Essex, Inggris (2010), salah satu kampus terbaik dunia untuk studi hak asasi manusia.
Kini, Haris Azhar terus aktif melalui kanal digital dan pendampingan hukum, memastikan bahwa di tengah hiruk-pikuk politik, suara keadilan tetap memiliki pembela yang tangguh.
(Red)
Sumber: Wikipedia

0Komentar