GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Dari Dagang Telur Jadi Menteri! Inilah Kisah Abdul Latief: Raja Ritel dari Pasa Gadang yang Mengubah Sejarah 1998

Dari Dagang Telur Jadi Menteri! Inilah Kisah Abdul Latief: Raja Ritel dari Pasa Gadang yang Mengubah Sejarah 1998

×


IKN-Jakarta – Nama Abdul Latief adalah sinonim dari kegigihan saudagar Minang yang berhasil menaklukkan kerasnya ibu kota. Dari seorang pemuda yang menjajakan telur di pasar, ia bertransformasi menjadi raja ritel Indonesia hingga menduduki kursi menteri. Namun, lebih dari sekadar materi, sejarah mencatat namanya sebagai sosok yang memicu perubahan besar bagi demokrasi Indonesia pada tahun 1998.

Darah Pasa Gadang dan Mentalitas Petarung

Lahir di Banda Aceh pada 27 April 1940, Abdul Latief sejatinya adalah putra asli dari Pasa Gadang, Padang Selatan. Kehilangan ayah di usia yang sangat belia, empat tahun, menempa karakternya menjadi mandiri. Di bawah asuhan sang ibu, ia belajar bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari keterbatasan adalah dengan berdagang.

Siapa sangka, menteri yang berwibawa ini mengawali kariernya dengan berdagang telur dan bawang pada usia 20 tahun. Sambil menempuh pendidikan di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, ia bekerja di Toserba Sarinah, tempat di mana ia kemudian dikirim ke Tokyo untuk mempelajari manajemen ritel modern. Pengalaman di Jepang inilah yang menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

Membangun Imperium Pasaraya

Keberanian Latief teruji saat ia memutuskan keluar dari Sarinah karena ide-ide inovatifnya ditolak. Dengan tekad bulat, ia memulai bisnisnya sendiri dengan membeli toko kecil di Grogol. Dari sana, lahirlah Pasaraya, department store pertama yang berani memposisikan produk kerajinan dan industri kecil Indonesia setara dengan merek internasional.

Melalui ALatief Corporation, ia tidak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun ekosistem bagi pengusaha muda dengan mendirikan HIPMI. Ia ingin memastikan bahwa kesuksesan yang ia raih bisa diduplikasi oleh pemuda-pemuda lain di seluruh nusantara.

Saksi Kunci dan Penggerak Reformasi 1998

Karier puncaknya di pemerintahan terjadi saat ia dipercaya menjadi Menteri Tenaga Kerja (1993-1998) dan kemudian Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya (1998). Namun, di balik kursi empuk kabinet, integritasnya diuji oleh badai krisis ekonomi dan tuntutan reformasi.

Abdul Latief mencatatkan namanya dalam buku sejarah sebagai menteri yang berani mengambil langkah krusial. Keputusannya untuk mengundurkan diri dari Kabinet Pembangunan VII pada awal 1998 memicu efek domino. Langkah ini diikuti oleh belasan menteri lainnya, yang pada akhirnya menjadi faktor penentu runtuhnya kekuasaan Orde Baru dan lahirnya era Reformasi yang kita nikmati hari ini.

Warisan Sang Saudagar

Kini, di masa purna tugasnya, Abdul Latief tetap menjadi sosok yang dihormati. Bisnisnya telah diteruskan kepada generasi penerus, namun semangat "Pasa Gadang"-nya—semangat untuk jujur, berani, dan inovatif—tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kisah hidupnya adalah pengingat bahwa tidak peduli seberapa kecil modal awal kita—bahkan jika itu hanya sebutir telur—dengan visi yang tajam dan keberanian untuk mengambil risiko, seseorang bisa mengubah jalannya sejarah sebuah bangsa.   (Red)


Sumber: Wikipedia



0Komentar