Refleksi
Oleh: Asril Fauzi
Ketua Umum Komisariat Tarbiyah STAIN Mandailing Natal Periode 2025–2026
Usia 79 tahun bukan sekadar penanda panjangnya usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia adalah akumulasi dari sejarah perdebatan, pertarungan gagasan, serta konsistensi keberpihakan pada umat dan bangsa yang terus diuji oleh perubahan zaman. Di tengah arus pragmatisme dan reduksi nilai yang kian menguat, HMI kembali diuji: tetap setia pada khidmat atau tergelincir menjadi alat kepentingan sesaat.
Didirikan pada 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane dan kawan-kawan, HMI lahir dari kegelisahan intelektual atas kondisi umat Islam dan bangsa yang baru merdeka. Sejak awal, HMI tidak memposisikan diri sebagai organisasi menara gading, melainkan sebagai gerakan kader yang menyatukan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas perjuangan. Insan Cita bukan jargon kosong, melainkan orientasi etik yang menuntut konsistensi praksis.
Di usia ke-79 ini, Komisariat Tarbiyah STAIN Mandailing Natal, Sumatera Utara Periode 2025–2026 menegaskan kembali posisi itu. Bahwa HMI tidak boleh tercerabut dari akar khidmatnya. Bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas struktural, melainkan proses pembentukan watak dan keberpihakan. Dan bahwa intelektualitas tanpa tanggung jawab sosial hanya akan melahirkan elite kosong makna.
Sepanjang 2024–2025, HMI secara nasional menghadapi tantangan serius: fragmentasi internal, godaan kekuasaan, hingga menguatnya politik identitas yang kerap menjauhkan organisasi dari nalar kritis. Di tingkat lokal, tantangan itu hadir dalam bentuk apatisme kader, tekanan ekonomi mahasiswa, serta minimnya ruang dialektika akademik. Kondisi ini menuntut HMI kembali pada kerja-kerja dasar: penguatan tradisi diskusi, advokasi isu pendidikan, dan pendampingan umat berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Komisariat Tarbiyah STAIN Mandailing Natal memandang khidmat sebagai kerja panjang, bukan perayaan tahunan. Dalam satu tahun terakhir, fokus diarahkan pada penguatan kader ideologis, literasi keislaman moderat, serta keterlibatan kader dalam isu pendidikan dasar dan keagamaan di Mandailing Natal. Data internal komisariat menunjukkan meningkatnya partisipasi kader dalam forum kajian dan pengabdian masyarakat dibandingkan periode sebelumnya—sebuah sinyal bahwa khidmat masih menemukan jalannya.
Namun, refleksi 79 tahun HMI juga harus jujur. Tidak semua berjalan ideal. Ada kelelahan struktural, ada stagnasi gagasan, dan ada godaan untuk bersikap netral di hadapan ketidakadilan. Padahal, netralitas terhadap kesalahan adalah bentuk keberpihakan yang paling halus sekaligus paling berbahaya. HMI, sejak lahir, tidak diajarkan untuk diam.
Karena itu, di usia ke-79 ini, HMI—khususnya Komisariat Tarbiyah STAIN Mandailing Natal—menegaskan sikap: setia pada independensi, konsisten pada khidmat, dan berani mengambil posisi moral. Untuk umat yang terus mencari keadilan, dan untuk bangsa yang masih membutuhkan suara mahasiswa yang jernih dan berani.
Sejarah telah membuktikan, HMI hanya besar ketika ia setia pada nilai. Dan usia 79 tahun ini adalah pengingat keras: khidmat bukan pilihan, melainkan kewajiban sejarah yang mesti di perjuangan. (Tim)

0Komentar