Opini
Penulis: Wisno D. Sampulawa
Tokoh Muda uda Maluku Utara
Laut selalu menyimpan cerita yang teramat sunyi di kedalamannya. Jauh dari riuh aktivitas manusia, terumbu karang bernapas perlahan, merajut kehidupan bagi ribuan warna yang menari di antara pecahan cahaya matahari yang menembus permukaan air. Di perairan Pesisir Barat Pulau Obi, Maluku Utara, keindahan itu kini menemukan rumah abadi dalam lembaran lembaran kertas.
Langkah Harita Nickel meluncurkan buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat bersama Penerbit Buku Kompas bukan sekadar ikhtiar menerbitkan karya cetak. Ini adalah sebuah surat cinta berbentuk data, sebuah komitmen tulus yang membuktikan bahwa dunia industri dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
Ketika sebuah Harita Nickel memilih untuk merekam rupa ikan Napoleon, keindahan butterflyfish, hingga ketangguhan kelompok trevally dari hasil pengamatan langsung di lapangan, di situlah batas antara profit dan kepedulian melebur menjadi satu. Data bawah laut tidak lagi berhenti sebagai laporan birokrasi, melainkan menjelma menjadi pengetahuan terbuka yang bisa dirasakan oleh siapa saja.
Keterlibatan lintas sektor dalam peluncuran di Kompas Institute, Jakarta, menegaskan bahwa menjaga alam bukanlah pekerjaan rumah satu pihak saja. Dari pemerintah pusat, akademisi Universitas Khairun dan Universitas Sam Ratulangi, hingga Bupati Halmahera Selatan, semua menyatu dalam kesadaran yang sama: laut adalah masa depan.
Kalimat bijak dari Dr. Ari Berty Rondonuwu menyentuh esensi yang paling dalam dari sebuah pelestarian: "Saat anak-anak di Pulau Obi mulai bisa menyapa nama dan mengenali rupa ikan di halaman rumah mereka sendiri, di situlah benih rasa memiliki dan kesadaran menjaga alam tumbuh paling kuat." Edukasi terbaik memang selalu berakar dari cinta pada tanah dan air kelahiran sendiri.
Apa yang ditunjukkan Harita Nickel melalui seri pertama ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan dan terumbu karang adalah hal paling mendasar dan merupakan sebuah keniscayaan. Ketika industri merawat bumi tempat ia berpijak, maka denyut kehidupan di bawah laut akan terus berdetak seirama dengan harapan masa depan yang lebih lestari.

0Komentar