IKN-Lombok Tengah – Selamat datang mahasiswa baru Magister Studi Islam. Selamat bergabung dalam perjalanan akademik yang menantang sekaligus mencerahkan.
Orientasi ini bukan sekadar pertemuan administratif, melainkan gerbang awal untuk merubah paradigma dari seorang pembelajar agama (under graduate) menjadi seorang peneliti dan pemikir Islam (graduate student).
Mengapa Magister Studi Islam (MSI)?
Di era modern yang kompleks, Studi Islam tidak lagi sekadar menghafal teks klasik (turath), tetapi memahami bagaimana teks tersebut berdialog dengan konteks sosial, budaya dan global. Program ini bertujuan mencetak ilmuwan yang tidak hanya ahli dalam ilmu-ilmu keislaman (syariah, aqidah, sejarah) tetapi juga mampu memberikan solusi praktis atas permasalahan kontemporer.
Seperti Metodologi Studi Islam, yakni memahami berbagai pendekatan baik normatif-teologis maupun historis-empiris, untuk mengkaji Islam secara efektif dan efisien. Literasi Akademik dan Bahasa harus mampu mengakses literatur primer dan sekunder, baik berbahasa Arab, Inggris, maupun bahasa asing lainnya untuk memperluas cakrawala keilmuan. Berpikir kritis dan wasatiyyah, mampu mengembangkan pemikiran yang moderat (wasathiyyah), toleran dan mampu menjawab tantangan globalisasi.
Rektor IAI Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah Dr. H. Muhammad Ahyar Fadly, S.Ag., M.Si membuka acara orientasi mahasiswa baru Magister Studi Islam (MSI) Pascasarjana IAIQH Bagu bertempat di lantai 2 ruang perkuliahan kampus kubah hijau, Sabtu (14/02/26).
Dalam sambutannya Rektor memperkenalkan tagline IAIQH Bagu "Adaptif, Unggul, Cendekia". Ia juga memaparkan pesan tentang substansi dari sosok manusia, yaitu sepertiga untuk Allah (ruhnya), sepertiga untuk manusia sendiri (amalnya) dan sepertiga untuk belatung (jasadnya).
Pilihan rasional mahasiswa melanjutkan studi ke jenjang magister dalam kerangka memperkaya amalnya sebagai bekal metodologi untuk kembali ke jati dirinya yang suci (fitrah). Manusia boleh salah, tetapi tahu caranya memperbaiki diri atau bertaubat. Karena itu, khuldi dalam konteks scientific tidak semata-semata sebuah pohon tetapi simbol pengetahuan dan peradaban manusia.
Dalam konteks itu khuldi yang dipetik Nabi Adam AS menjadi sebuah simbol pengetahuan dan peradaban umat manusia yang akan dijalani oleh Nabi Adam AS, Sayyidah Hawa dan anak keturunannya. Sehingga dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia di bumi mulai terjadi pertikaian sesungguhnya antara Qabil dan Habil.
Itulah episode sejarah kedua di tempat dan waktu yang berbeda. Nabi Adam AS dan istrinya hanya bisa mengelus dadanya melihat episode kehidupan anak keturunannya. Semua ia pasrahkan kepada Tuhan.
Selanjutnya Wakil Rektor I UIN Mataram Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag, menyampaikan tentang “Membangun Akademisi Muslim Moderat dan Berdaya Saing Global”. Kegiatan Orientasi Pascasarjana merupakan langkah awal dalam membentuk karakter dan arah berpikir mahasiswa sebagai insan akademik yang unggul.
Dalam dinamika global yang terus berkembang, peran akademisi muslim tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, bijak dalam bersikap, serta mampu berkontribusi di level nasional maupun internasional.
Orientasi ini menjadi ruang refleksi bahwa akademisi Muslim masa kini harus mampu menjawab tantangan era globalisasi dan revolusi teknologi. Kemajuan informasi, digitalisasi, serta kompetisi global menuntut mahasiswa Pascasarjana untuk memiliki kemampuan riset yang kuat, publikasi ilmiah bereputasi, penguasaan bahasa internasional, serta jejaring kolaborasi lintas negara.
Di Indonesia, keberagaman adalah realitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, akademisi muslim moderat harus menjadi perekat persatuan, penjaga nilai toleransi, serta agen perubahan yang membawa solusi, bukan konflik.
Melalui kegiatan orientasi ini, diharapkan mahasiswa pascasarjana mampu menumbuhkan integritas akademik berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, mengembangkan budaya riset yang kritis, objektif, dan inovatif, memperkuat kapasitas literasi digital dan publikasi ilmiah internasional serta membangun jejaring akademik yang luas dan kolaboratif.
Akhirnya, orientasi ini bukan sekadar seremoni pembukaan studi, tetapi momentum pembentukan visi besar: mencetak akademisi muslim yang moderat dalam berpikir, kuat dalam akidah, luas dalam wawasan, serta mampu berdiri sejajar di panggung dunia. Dengan niat yang tulus, kerja keras, dan komitmen terhadap nilai keilmuan serta keislaman, lahirlah generasi akademisi yang tidak hanya sukses secara personal, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan peradaban global. (Hamdiono)


0Komentar