Oleh: Mhd. Muslimin Pulungan
Kader HMI Mandailing Natal, Sumatera Utara
Usia 79 tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar tonggak historis organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. Ia adalah ujian kedewasaan. Pada fase ini, organisasi tidak lagi ditantang untuk sekadar bertahan, melainkan untuk membuktikan relevansinya secara intelektual dan moral. Perayaan, jika tidak disertai koreksi jujur, justru berpotensi menjadi mekanisme penghiburan diri yang menutup mata dari problem internal yang kian mengeras.
Sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947, HMI dibangun di atas kegelisahan intelektual dan tanggung jawab kebangsaan. Lafran Pane memposisikan HMI sebagai ruang dialektika antara Islam dan Indonesia bukan sebagai organisasi identitas, apalagi alat kekuasaan. Islam, dalam pandangan Lafran, adalah energi etik yang harus mendorong kecerdasan, keberanian, dan pengabdian sosial.
Fondasi ini kemudian dirumuskan dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang menempatkan tauhid sebagai sumber etika, ilmu sebagai alat pembebasan, dan amal sebagai praksis sosial. Nurcholish Madjid tokoh sentral tradisi intelektual HMI menegaskan bahwa kemunduran umat Islam sering kali bermula dari kegagalan membedakan antara nilai dan simbol. Ketika simbol dirayakan berlebihan, nilai justru ditinggalkan (Madjid, 1987).
Problem inilah yang kini menghantui HMI. Di tengah kematangan usia, HMI justru menghadapi erosi orientasi. Fragmentasi struktural, kompetisi kekuasaan internal, serta kecenderungan menjadikan organisasi sebagai jalur mobilitas politik jangka pendek telah menggerus makna kaderisasi. Dalam situasi demikian, khidmat yang seharusnya menjadi etos pengabdian tereduksi menjadi slogan normatif tanpa implikasi praksis.
Dawam Rahardjo, ekonom dan intelektual HMI, sejak lama mengingatkan bahaya pragmatisme dalam gerakan mahasiswa Islam. Menurut Dawam, ketika organisasi kehilangan basis intelektualnya, ia akan mudah tergelincir menjadi instrumen kepentingan sesaat dan kehilangan daya kritik terhadap struktur ketidakadilan (Rahardjo, 1999).
Khidmat, dalam tradisi HMI, bukanlah sikap pasif apalagi loyalitas buta. Ia menuntut keberpihakan sadar pada problem umat dan bangsa. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai tugas intelektual profetik: membaca realitas secara kritis dan melakukan transformasi sosial berbasis nilai (Kuntowijo, 2006). Tanpa keberanian ini, organisasi kader hanya akan memproduksi elite tanpa sensitivitas sosial.
Revitalisasi khidmat, karena itu, tidak cukup diwacanakan dalam forum-forum internal. Ia harus menjelma menjadi kerja nyata: advokasi pendidikan yang timpang, keberpihakan pada kaum miskin kota dan desa, kritik kebijakan publik yang abai pada keadilan, serta pembelaan terhadap kebebasan berpikir. Djohan Effendi—tokoh HMI yang konsisten memperjuangkan pluralisme dan etika publik—menegaskan bahwa keberagamaan tanpa keberanian moral hanya akan melahirkan kesalehan yang steril secara sosial (Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an, 1995).
Menjelang usia 80 tahun, HMI tidak kekurangan sejarah, tetapi berisiko kekurangan keberanian. Koreksi internal sering kali dianggap ancaman persatuan, padahal justru merupakan syarat regenerasi. Organisasi yang alergi kritik sejatinya sedang menyiapkan stagnasi. Hannah Arendt menyebut kondisi ini sebagai jebakan kebiasaan: ketika sesuatu terus dipertahankan bukan karena benar, tetapi karena sudah mapan.
Sejarah mencatat, HMI tumbuh besar karena tradisi dialektiknya. Perdebatan iman dan ilmu, Islam dan negara, idealisme dan realitas bukan dihindari, melainkan dirawat sebagai energi intelektual. Tradisi ini hanya dapat hidup jika kader berani bersikap kritis—termasuk terhadap praktik internal organisasinya sendiri.
Milad ke-79 semestinya menjadi momentum rekonstruksi arah. Penguatan basis intelektual, kaderisasi ideologis yang serius, serta penegasan khidmat sebagai praksis sosial adalah agenda mendesak. Tanpa itu, HMI berisiko menjadi organisasi besar secara historis, tetapi rapuh secara etis dan intelektual.
Menuju 80 tahun, HMI dihadapkan pada pilihan mendasar: menjadi penjaga romantisme masa lalu, atau kembali menjadi Laboratorium Insan Cita ruang pembentukan kader yang berpikir jernih, bersikap adil, dan berani mengambil risiko moral demi kebenaran. Perayaan hanya akan bermakna jika disertai keberanian berkaca. Tanpa itu, usia hanyalah angka, dan sejarah tinggal nostalgia.
Selamat Milad HMI ke-79.
Semoga HMI tetap setia pada cita-cita keislaman dan keindonesiaannya sebagai tanggung jawab intelektual dan amanat sejarah.

0Komentar