GpGiTSWiBSCpBSA6BSriTfdoGd==
Light Dark
Dukungan Akar Rumpun Menguat, Wamenag: Kesejahteraan Tak Boleh Berhenti di Pusat

Dukungan Akar Rumpun Menguat, Wamenag: Kesejahteraan Tak Boleh Berhenti di Pusat

×

IKN-Mandailing Natal – Dukungan terhadap program strategis Presiden Prabowo Subianto menguat dari daerah. Dari Mandailing Natal, aktivis lokal Mhd Muslimin Pulungan menyuarakan sokongan terbuka terhadap program nasional pemerintah, sejalan dengan seruan Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafi’i, yang dinilainya sebagai ikhtiar konkret negara untuk menghadirkan kesejahteraan yang benar-benar menyentuh kehidupan rakyat di akar rumpun.

Pernyataan itu disampaikan Muslimin merespons pesan Romo Muhammad Syafi’i dalam Silaturahim dan Malam Keakraban di Aula Hotel Rindang, Panyabungan, rabu malam (24/12/25). Acara tersebut dihadiri jajaran strategis daerah, antara lain Kepala Kanwil Kemenag Sumatera Utara, Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal, Ketua dan anggota DPRD Madina, serta unsur Kemenag setempat dll. 

Muslimin menilai program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Koperasi Daerah Merah Putih (KDMP), Makan Bergizi Gratis (MBG), serta Sekolah Rakyat atau pendidikan gratis bukan sekadar slogan pascapemilu. Program-program itu, kata dia, menyasar langsung problem struktural yang selama ini membelit daerah, ketimpangan akses gizi, layanan kesehatan dan pendidikan yang layak.

“Ini bukan proyek elitis yang berhenti di ruang birokrasi pusat. CKG, KDMP, MBG, dan sekolah rakyat adalah wajah negara yang hadir untuk rakyat kecil. Karena itu, dukungan lintas kelompok menjadi faktor penentu keberhasilannya”, ujar Muslimin, kamis (25/12/2025).

Ia menekankan, Mandailing Natal mencerminkan tantangan klasik implementasi kebijakan pusat. Keterbatasan fasilitas pendidikan, kerentanan ekonomi keluarga, dan akses layanan dasar masih menjadi realitas sehari-hari. Karena itu, ukuran keberhasilan program nasional tidak boleh berhenti pada serapan anggaran atau laporan administratif, melainkan harus terlihat pada perubahan konkret di tingkat rumah tangga.

Muslimin menyebut seruan Romo Muhammad Syafi’i sebagai “panggilan moral” bagi umat dan masyarakat sipil. Ajakan untuk mendukung program Presiden sembari menjaga persatuan umat, menurut dia, menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa dilepaskan dari stabilitas sosial dan kohesi kebangsaan.

“Pesannya jelas, jangan biarkan agenda kesejahteraan dibajak oleh narasi yang memecah belah. Agama termasuk Islam, harus menjadi energi pemersatu bangsa, bukan sasaran framing negatif yang kontraproduktif”, katanya.

Ia mengingatkan, sejarah pembangunan Indonesia menunjukkan bahwa konflik sosial, polarisasi identitas dan politik adu domba kerap menjadi penghambat utama kebijakan publik. Menjaga keamanan, ketenangan sosial dan kekompakan umat, kata dia, bukan isu normatif, melainkan kebutuhan strategis.

Menurut Muslimin, keberhasilan agenda Prabowo tidak hanya bertumpu pada pemerintah pusat. Kolaborasi dari atas ke bawah antara pemerintah pusat hingga daerah, tokoh agama, aktivis dan masyarakat sipil menjadi kunci agar program berjalan tepat sasaran, transparan dan berkeadilan.

Ia juga mengajak publik tidak terjebak pada skeptisisme yang nihil kontribusi. Kritik tetap diperlukan, namun harus diarahkan pada pengawasan substantif. “Kita perlu terlibat aktif, mengawasi, mendukung dan mengoreksi secara konstruktif. Itulah partisipasi warga negara yang dewasa”, ujarnya.

Bagi Muslimin, doa dan dukungan moral yang disampaikan Romo Muhammad Syafi’i bukan simbol kosong. Dalam masyarakat majemuk, solidaritas lintas kelompok mencerminkan kematangan demokrasi sekaligus legitimasi sosial bagi kepemimpinan nasional.

“Kita doakan Presiden Prabowo selalu sehat dan diberi kekuatan. Tapi doa harus berjalan seiring kerja nyata di lapangan. Tanpa partisipasi publik, program sebaik apa pun akan kehilangan daya dorong”, katanya.

Sebagai aktivis daerah, Muslimin menegaskan komitmennya mendorong narasi kebangsaan yang inklusif dan rasional. Ia berharap program strategis nasional tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan, tetapi benar-benar dirasakan hingga pelosok desa.

“Ini untuk kepentingan bangsa. Jika umat dan masyarakat bersatu, menolak politik adu domba dan menjaga keamanan sosial, agenda kesejahteraan Presiden Prabowo akan menemukan momentumnya. Dari daerah seperti Mandailing Natal, Indonesia yang adil dan makmur bisa dibangun”, tutupnya. (MM)

0Komentar